Sabtu, 07 Mei 2016

LONTAR CALONARANG TERJEMAHAN BAGIAN I






Calon Arang (terjemahan Indonesia)
= Semoga tidak ada halangan
Ada perkataan orang-orang tua yang mengisahkan hakikat Sri Mpu Baradah ketika beliau tinggal di pertapaannya di Lemah Tulis. Tidak ada tandingan mengenai kesaktiannya, terutama dalam menghayati Dharma. Beliau sempurna dalam hal penghayatan, mengetahui ilmu kesempurnaan dunia. Demikianlah pelaksanaan kesempurnaan tapanya. Beliau mempunyai seorang putrid, bernama Sang Wedawati, gadis belum bersanggul, sangat cantik(nya), bagaikan bidadari turun ke bumi. Setelah itu sakitlah istri Sri Mpu Baradah, ibu Sang Wedawati itu. Akhirnya beliau meninggal. Wedawati sedih dan menangis. Dia memeluk mayat ibunya, keluh kesahnya mengharukan, “Aduhai, ibuku, siapakah yang akan mengasihi hamba lagi?”
=Maka disuruhlah membawa mayat itu ke kuburan, agar dibakar di kuburan. Setelah sempurna, beliau pun mencapai kelepasan. Tidak diceritakan beliau itu. Lalu Mpu Baradah mencari istri lagi. Kemudian, beliau berputra seorang laki-laki. Semakin dewasa umur(nya) anak itu, sudah cukup usia untuk berlari-larian, sampai sudah dapat memakai kain. Mpu Baradah pergi ke pertapaannya, di tempat tinggal beliau, tempat dia melakukan yoga, bernama Wisyamuka. Di sanalah beliau melakukan korban, dihadap oleh para muridnya. Di tempat itulah beliau mengajarkan ajaran kebenaran dan kebaikan. Hentikanlah sejenak, diceritakanlah Sang Wedawati. Gadis ditu dicaci maki oleh ibu tirinya, maka Sang Wedawati sangat sedih. Menangislah dia, tidak sempat memakai perhiasan dan makan. Kemudian, dia pergi ke tempat pembakaran ibunya, di kuburan itu.
=Lepaslah perjalanannya, telah datang di bawah lindungan pohon beringin besar. Ia bertemu dengan mayat, mayat orang yang mati yang diduga karena tÄ›luh. Empat mayat banyaknya. Adapun anaknya hendak menyusu pada mayat ibunya, (yang) dikerumuni oleh semut gatal. Sang Wedawati sangat terharu melihatnya. Dia berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, lalu menuju ke tempat pembakaran ibunya. Duduklah dia di bawah naungan pohon kepuh. Dia menangis berlindung di akar pohon kepuh itu, mengelukan kepada ibunya, “Ibu, jemput aku segera.” Begitulah seruan Sang Wedawati memilukan hati. Tidak akan disebutkan Dyah Wedawati. Diceritakan Sri Mpu Baradah pulang dari bersembahyang di Wisyamuka. Beliau duduk di tempat pertemuan. Datanglah istrinya, memberitahukan ucapan penolakan Wedawati memetik bunga dengan adiknya.
=Bunga itu direbutnya, keduanya pun menangis, lalu dia pergi. Dicari oleh sanak keluarga tidak dijumpai. Sang Pendeta berkata, “Sayalah yang akan mencarinya sekarang.” Sang Pendeta segera lenyap, ikut akan mencari anaknya, sampailah beliau di ladang-ladang. Ada anak gembala ditemuinya. Sang pendeta bertanya dengan ucapnya halus, “Hai Anak Gembala, tahukan kau wanita bernama Wedawati. Adakah dia engkau temui di sana dan bagaimanakah?” Anak gembala menjawab, memberitahukan kepada Sang Pendeta, “Ada putri sangat cantik rupanya. Dia menangis, mengeluhkan ibunya. Dia berkerudung pergi ke selatan ke barat”. Sang Pendeta mempercepat jalannya, menanti putrinya. Beliau segera datang ke tampat pembakaran istrinya ditemui jeajaknya. Dia bersedih sambil menangis, memandang kea rah utara, selatan, barat dan timur. Kelihatan Sang Putri menangis duduk di atas batu, berlindung di akar pohon kepuh. Berkatalah Sang Pendeta, “Aduhai Anakku, engkau sangat berani datang ke kuburan ini, ke pembakaran mayat ibumu. Sudahlah Anakku, janganlah begitu, sebab perilaku dalam kehidupan, kematianlah akhirnya. Marilah Anakku pulang, jangan keras (hati) sayangku.” Sang putri menjawab, “Saya akan turut mati saja bersama ibu. Hati saya sangat sedih dan pasti akan mengikuti kepergian ibu.” Sang Pendeta berkata, “Anakku tersayang ikuti saya sekarang.” Kemudian, beliau minta Sang Putri agar pulang. Terbenamlah matahari, tiba di Lemah Tulis. Dinasihatilah semalam Sang Wedawati oleh Sang Pendeta, (mengenai) jalan menuju kebaikan. Sang Wedawati mengikuti nasihat Sang Pendeta. Setelah demikian
=Sang Pendeta pergi melakukan persembahan rutin bersama di Wisyamuka. Di sana Sang Pendeta dihadap oleh muridnya semua, diberi persembahanlah beliau di sana. Sang Pendeta mengajarkan ajaran kebaikan kepada muridnya semua diberitahukanlah mereka di sana. Sang Pendeta menyampaikan (mengajarkan) tentang tuntunan kebenaran, kepada semua muridnya mengenai dharma dan kesempurnaan menuntut ilmu. Tidak diceritakan Sang Pendeta. Diceritakanlah Sang Wedawati dimarahi oleh ibu tirinya lagi. Sang Putri menangis, bingung dalam bertingkah laku. Dia sangat sedih. Dia pergi lagi ke tempat pembakaran mayat ibunya. Tidak diceritakan perjalanannya di jalan. Ia segera tiba di tempat pembakaran. (Ia) bersedih dan menangis, keluh kesahnya, “Ibuku, lihatlah olehmu kesengsaraanku, (tetapi) permintaanku kepadamu, renggutlah aku cepat-cepat. Aku akan selalu bersamamu ibu.” Demikian(lah) keluh kesahnya, keluar air mata. Sang Wedawati sedih. Jangan bersamanya. DIceritakanlah Sang Pendeta. Beliau dating dari melakukan persembahan utama.
=Beliau duduk di balai penghadapan. Dipanggillah anaknya, “Omputri engkau Anakku, datanglah kemari (kau) Wedawati sayangku, berdua bersama adikmu di penghadapan? (Mengapa) tidak ada yang menjawab?” Kemudian, ibu tirinya mendekat (lalu) berkata. Ucapnya, “Tuanku Sang Pendeta, anak Sang Pendeta menolak lagi, datang berebutan dengan adiknya itu.Hamba tidak dapat menahan, cepat-cepat pergi, dicari keluarganya, tidak ditemuinya.” Sang Maharsi berkata, “Aduh, dia datang lagi ke pembakaran ibunya di sana.” Sang Pendeta (lalu) turun dari tempat duduk hendak mencari anaknya. Dia akan datang ke tempat yang kotor. Sang Pendeta berjalan cepat, setibanya Sang Pendeta di kuburan it, dijumpai putrinya. Sang Pendeta berkata, “Aduhai Anakku, Wedawati sayangku, pulanglah anakku ke asrama. Saya akan mengiringkanmu. (Kamu) tidak lain menjadi
=jiwa pikiran dalam lubuk hati. Engkau bunga jangga. “Sang Wedawati tidak menjawab. Ucapan Sang Pendeta minta belas kasih. Bingunglah hati Sang Pendeta, melihat perilaku anaknya itu. Sang Pendeta duduk di bawah naungan pohon kepuh. Beliau kemudian mengajarkan tuntunan kebaikan kepada putrinya. Lama (beliau) Sang Pendeta memberi ajaran kepada anaknya. Akhirnya Sang Wedawati berkata, “Sembah sujud di telapak kaki Paduka. Anak Sang Pendeta enggan pulang ke Lemah Tulis, ingin mati saja di sini, mengikuti pesan ibu hamba. Saya ingin berlindung di bawah naungan pohon kepuh, hingga pada saatnya menemui ajal. Hamba mati saja di sini. “Mpu Baradah memerintahkan kepada murid-muridnya. Segera menyuruh mengusung balai dan rumah untuk tempat peristirahatannya di kuburan itu. Demikianlah keinginan Sang Pendeta.
=Di kuburan tempat pembakaran itu akan dibuat asrama. Mereka meratakan dan menyucikan tanah kuburan, mendirikan balai, ruang tamu, ruang tidur, utamanya rumah kecil, pintu bertingkat di pinggir. Pagar tanaman suru-suru dijajar padma, dan pete-petean. Ada angsoka (Tonesia asoka Roxb), andul (Eleo carpus specious), surabi (Michelia campaka), tanjung, kamuning (Murrava), campaka gondok, warsiki, angsana (Terminalia tomentosa), jering (Pithecolibium). Ada lagi nagasari berdaun muda. Tidak akan disebutkan segala jenis bunga, cabol atuwa, gambir, bunga melati (Jasminum grandiflorum), caparnuja, kuranta (Barbaria), pohon teri naka (Bauhinia tumentosa), cina (Artocarpus integrifolia), teleng (Clitorea ternatea), bunga wari dadu (Pink), putih, jingga, merah, bunga tali, teratai merah, dan lungid sabrang. Termasuk bayem raja (Amarantus oleraccus), bayem suluh, tumbuhan berakar (Ikut Lutung) (Acalupha deusiflora), tumbuhan berserabut, disertai bunga rara emas (Rara Melayu). Bunga seruni putih, seruni kuning, mayana loreng, mayana nila (Coleus cutellanoides). Ada yang kuning, lungid sabrang, andong (Calodracon jaquinia) ditata, juga pohon kancana (kayu mas), puring, tunjung, pohon ara di pojok. Lengkap segala macam bunga dan berjenis-jenis kembang. Pandan janma telah berdiri kokoh, menuruti cara kehidupan di asrama,
=sangat indahnya, mengesankan bagaikan alam Dewa Wisnu turun ke dunia. Senang hati Sang Wedawati, setelah asrama itu selasai dibuat, kuburan tempat ibunya dibakar. Kokoh tempat tinggal Sang Pendeta, ada di pertapaannya dihadap oleh murid tua dan muda pada waktu siang dan malam. Tidak dikatakan Sang Pendeta. Diceritakanlah Sang Raja di Daha. Beliau memerintah dengan damainya, menguasai dunia, aman dan sejahtera kerajaan dalam kekuasaannya. Maharaja Erlangga gelar beliau, berbudi sangat mulia, cenderung meniru Pendeta. Berbagai pulau di Nusantara tunduk kepada beliau. Disebutkan ada seorang janda, tinggal di Girah, Calon Arang namanya. Dia berputra seorang wanita, bernama Ratna Manggali, parasnya sangat cantik, bagaikan permata istana. Lama tidak ada orang yang hendak melamarnya, baik orang dari Girah maupun orang dari Kerajaan Daha,
=atau pun daerah pinggiran, sama tidak ada yang hendak melamarnya, berani datang ke tampat anak janda itu, yang bernama Manggali di Girah, karena terdengar oleh dunia bahwa beliau (Randa) di Girah berbuat jahat. Menjauhlan orang yang ingin melamar Sang Manggali.. Sang Randa pun berkata, “Aduh apakah ini yang membuat anakku tidak ada yang melamarnya, (padahal) cantiklah rupanya, kendatipun demikian tidak ada yang menanyakannya. Sakit juga hatiku oleh keadaan itu. Berdasarkan hal itulah aku akan mengambil pustakaku. Apabila aku telah memegang pustaka itu, aku akan datang menghadap Paduka Sri Bagawati. Aku akan minta anugerah, semoga binasalah orang-orang di seluruh kerajaan. “Setelah beliau mengambil pustaka, pergilah ia ke kuburan. Ia mohon anugerah Tuhan ke hadapan Paduka Batari Bagawati, diikuti oleh muridnya semua. Adapun nama masing-masing

Selasa, 03 Mei 2016

TERJEMAHAN SULUK JEBENG SUNAN BONANG







JEBENG 1

Betapapun besar rindu kepada Allah
sesungguhnya mustahil, anakku
menyusunnya dalam sebuah puisi
sekedar ingin menjadi orang mulia
dengan baris baris ini,anakku
ingin kukenali
Allah Maha Besar
Aku melithatNya ,anakku
lihatlah Aku
pasti Akupun melihatmu

JEBENG 2

Apabilaingin mengenal Allah
anakku,pandanglah dirimu baik baik
sebagai penggantiNya
namun jangan salah paham
jasmanimu itu mahluk
kalau dipandang mirip sama
namun dalam tauhid harus waspada
hal itu ibarat debu dengantanah,anakku
atau seperti dengung dengan suaranya

JEBENG 3

Bagai sebutir telur
yang bergelindingan, anakku
tak ada tepinya
sungguh membingungkan
akhirnya menjadi ayam
lengkap dengan bulunya
kalau diterangkan,anakku
hendaklah engkau berhatihati
sebab hal itu rumit
hendaklah diteliti
sebab hal itu sulit

JEBENG 4

Yang membingungkan dari dunia ini menurutku,anakku
ialah dalam memahaminya
rupa Tuhan
bagaimana sebenarnya rupa Tuhan?
dibanding manusia,
ibarat cempedak dengan nangka kelihatannya
seperti kembang kelak dan kembang kenanga
tapi haruslah waspada anakku
jangan menduga duga kalau belum mengerti

JEBENG 5

Antara nabi denganmu tiada beda
anakku,tapi kau harus waspada
diantara perbedaan dan persamaannya
ibarat senyum dengan tertawa
harus ditatap secara cermat
sukma dalam dirimu
amat halus terlihat
bukan ruh dengan jasad
anakku,bunga itu rupamu
Tuhan bau harumnya
tapi janganlah menduga duga kalau masih bingung

JEBENG 6

Sungguh nyata diri kita,anakku
berasal dari tiada
untuk kembali tak ada
banyak orang berguru
memuliakan ajaran ini
dengan pemahaman yang setengah setengah
demikian juga dalam menerimanya
bingung ada yang keluar dari tak ada
kembali tak ada
kebingungan itu di puja puja

JEBENG 7

Nak,jangan hanyut kiranya
ikut ikut mengatakan takada
padahal tak tau yang sebenarnya
hal demikian sudah biasa
bukan begitu kata ilmu sempurna
tak demikian yang dinyatakannya
ilmu itu susah diterangkan
dimatamu tumpang tindihkelihatannya
maka pahami secara seksama,nak
perbaiki sikapmu itu

JEBENG 8

Laksanakan shalat sehakikinya
hai anakku,shalat itu 3 tingkatannya
dengan keutamaannya serta
jadi yang dinamakan sembah puji
laksana air mengalir dari gunung
masuk ke dalam samudra
sembah seseorang
jangan berhenti di kolam sawah
itu mandek namanya
tak tercapai tujuannya

JEBENG 9

Dalam shalat hendaklah khusyuk tuntas
seperti mengaduk air dalam belanga
anakku,demikianlah
seperti ujung daun adanya
yang muncul dengan sendirinya
dari tiada menjadi ada
laksana tanah dengan air
laksana akar meneteskanair
dirimupun adalah manusia
yang menyongsong ajalnya

JEBEBG 10

Puncak ilmu yang sempurna
ibarat api yang berkobar
kenalilah bara dan nyalanya
ketahuilah cahayanya
pun asapnya
sebelum menyala
adapun setelah padam ia
diliputinya segala rahasia
jadi hendak bicara apa?

JEBENG 11

Kau jangan mempertuhankan diri
berlindunglah padaNya
didalam ruh jasad sesungguhnya
jangan ada yang dipersoalkan
jangan mengaku Tuhan
jangan mengira tak ada
lebih baik diam saja
ingat,anakku,jangan guncang
dalam kebingungan

JEBENG 12

Yangsempurna ibarat orang tidur
dengan wanita sampai bersenggama
keduanya terlena
tenggelam dalam cinta
anakku,terimalah dengan baik
dalam pemahamanmu
ilmu itu memang sukar
kebatinan dengan islam
sekalipun begitu ada lagi
paham itu kadang diikuti
adapun orang yang mengaku memilih
taukah yang di dalam hati?
anakku,ingatlah mati
melanggar larangan nitu salah
jiwa tertenggam di tengah Tuhan
dan selamanya bersama Tuhan
itu ibaratnya
dalang yang memainkan wayang
senantiasa memulai memainkan wayang
lantaran sebenarnya ia belum jadi dalang

JEBENG 14

Ada ajaran lebih utama
ada besi di tanam dalam tanah
pikirkan bagaimana tumbuhnya?
anakku,kalau minta dijelaskan
gaib itu ibarat air hanyut
tak diketahui asal usulnya
seperti menanam batu
seperti orang tidur
engkau ditanam oleh Tuhan
kalau tak tumbuh alangkah sayang

JEBENG 15

Kalau tumbuh,tumbuhlah kukuh
engkau orang pinggiran
tinggal didusun
namun aku melihatmu
tapi nsiapapun engkau
hendaklah tau yang dituju
karib disisi Tuhan
ibarat hujan ke tanah jua jatuhnya
ibarat ular menetaskan telurnya

JEBENG 16

Sukma,manusia,nabi,wali
ingat nak,pengetahuan itu
jangan oleh benda terkesima
kembalilah menyibukkan diri
menghadap Allah Ynag Belas Kasih
sampai akhirnya menemukan hikmah

JEBENG 17

Kalau kemari kupeluk erat engkau anakku
sebab Allah besertamu
kemamnapun engkau pergi
Allah mengerti,
hambanya yang sanggup menguasai diri
memegang badan
akhirnya menyatu denganTuhan
tapi bukan satu anakku

JEBENG 18

Nak,tataplah dirimu
maka tampak Aku di penglihatan itu
demikian yang benar
jangan pegang akupegang dirimu sendiri
maka lagi kutandaskan
jangan cari Aku
itu melanggar
kalau diri sendiri tak kau genggam
engkau dalam kesesatan

JEBENG 19

Diibaratkan lgi yang dalam kesesatan
anakku,yakni seperti orang yang memuja wayang
mana kebenaran?
hadirnya dalang
sebab diundang memainkan wayang
demikian keadaanya
tak ada yang terlihat
Allah lebih mulia
meski diri sendiri yang di pandang
seperti berkaca di paesan

JEBENG 20

Bayang bayang di amati secara seksama
anakku,hal itu tiada berbeda
disitu juga aku berada
badan akan jadi mulia
segala gerak jadi puja
tertawa jadi sembah
kalau bicara ditaburi anugerah
semua tingkah laku jadi puji
puji memuji sendiri

JEBENG 21

Anakku,taati nasehat ini
Allah yang dibicarakan
yang kufur,yang kafir,semuanya
dilihat olehNya
anakku,seperti merampas uang
itulah perampokan
banyak orang keliru
menandai banyaknya perampokan
yang kaya akhirnya ditipu
oleh yang merampas

JEBENG 22

Banyak orang kekal di neraka
anakku,hati hatilah
perhatikan adanya badan ini
badan tempat persemayaman raja
dan tempat menyimpan kekayaan
periksalah olehmu bahwa Aku berada disitu
apa kekurangan raja itu
orang pilihanlah yang tau pengawalnya
ditempat penyimpanan

JEBENG 23

Tak kentara ia sampai pada inti
tak meraba raba ilmunya
anakku,meskipun begitu ada perumpamaan
laksana semut yang berjalan
bekas kakinya tak ada yang tahu
ada atau tidaknya
karena teramat halusnya
ibarat orang menumbuk air
sudah halus ditumbuh dikunyah lagi
sampai giginya patah
Jebengpun yang kelihatan,anakku,coba perhatikan
karya yang sekedar tuk didendangkan
ikut ikut menyusun puisi
tanpa menginsafi kecanggungannya
memaksa diri tuk bercerita
jadi bingung akhirnya
dalam mengerjakannya
jadi mohon maaf segala yang disajikan
mohon maaf sebesar besar permaafan

AJARAN BUDI PEKERTI DALAM SULUK SUJINAH






Salah satu kitab suluk yang mengajarkan pendidikan budi pekerti adalah Suluk Sujinah. Seperti layimnya jenis kitab-kitab suluk, Suluk sujinah dituangkan dalam bentuk dialog, antara Syekh Purwaduksina dengan istrinya Dyah Ayu Sujinah mengenai asal asal mula, kewajiban, tujuan, dan hakikat hidup menurut agama Islam, khususnya ajaran tasawuf. Diterangkan juga tahap-tahap yang harus dilalui manusia dalam upayanya agar bisa luluh kembali kepada Tuhan.

Tidak mudah untuk menemukan pendidikan budi pekerti dalam Suluk Sujinah yang sebagaian besar isinya membentangkan masalah jati diri manusia, apa saja yang akan dialami anak manusia menjelang dan sesudah mati, Dzat Yang Kekal dan lain-lain, hal yang tidak mudah dipahami, karena dituangkan dalam bahasa yang sarat lambang. Di bawah ini ungkapan beberapa bait yang berisi pendidikan budi pekerti dalam Suluk Sujinah sebagai berikut :


Sifat Perbuatan Lahiriyah


Agampang janma sembayang, nora angel wong angaji, pakewuhe wong agesang, angadu sukma lan jisim, salang surup urip, akeh wong bisa celathu, sajatine tan wikan, lir wong dagang madu gendhis, iya iku wong kandheng ahli sarengat.

Terjemahan :

Adalah mudah manusia sembahyang, tidaklah sesulit orang memuji, rintangan hidup adalah mengadu sukma dan tubuh, salah paham kehidupan, banyak orang bisa bicara, nyatanya tidak mengetahui, sperti orang berdagang madu gula, orang yang terhenti sebagai ahli syariat.


Sang Dyah kasmaran ing ngelmi, tan nyipta pinundhut garwa, amaguru ing batine, kalangkung bekti ing priya.

Terjemahan :

Si cantih gemar belajar ilmu, tidak mengira akan diperistri, dalam hati ia berguru dan sangat berbakti kepada suami.


Mung tuwan panutan ulun, pangeran dunya ngakerat.

Terjemahan :

Hanya tuan yang kuanut, pujaan di dunia dan akhirat.


Ping tiga ran bayuara, ya tapaning estri ingkang utami, lire bangkit nyaring tutur, rembuge pawong sanak, tan ………, kang tinekadken ing driya, pituturing guru laki.

Terjemahan :

Ketiga disebut banyuara, yakni tapa istri utama, artinya mampu menyaring kata, tutur kata sanak saudara, tidak mudah mematuhi dan meiru, dalam hati hanya bertekad mematuhi nasehat suami.


Dyah Ayu Sujinah lon aturnya, adhuh tuwan nyuwun sihnya sang yogi, tan darbe guru lyanipun, kajawi mung paduka, dunya ngakir tuwan guru laki ulun.

Terjemahan :

Dyah Ayu Sujinah berkata perlahan, “aduhai, aku mohan belas kasihan, aku tidak mempunyai guru lain, kecuali hanya paduka, di dunia dan akhirat, tuanlah guruku”.


Dyah Ayu Sujinah umatur ngabekti, langkung nuwun pangandika tuwan, kapundhi ing jro kalbune, dados panancang emut, karumatan sajroning budi.

Terjemahan :

Dyah Ayu Sujinah berkata dengan hormat, “sangat berterimakasih atas penjelasanmu, kuingat dalam hati baik-baik, dan kulakukan”.

Seseorang yang hanya terhenti pada tahap syariat diibaratkan sebagai berdagang madu gula. Dalam mengarungi samudera kehidupan, manusia pasti akan mengalami berbagai rintangan yang tidak cukup diatasi dengan banyak bicara saja tanpa disertai laku amal.

Dalam hubungan suami istri, dilukiskan bahwa keutamaan seorang istri ialah wajib setia bakti patuh kepada suami. Suami diibaratkan sebagai guru yang harus dianut tanpa kecuali, dan sebagai pujaan di dunia dan akhirat.istri yang dipandang utama ialah istri yang mampu menyaring tutur kata orang lain, tidak mudah terpengaruh siapapun, hanya patuh dan tunduk kepada nasihat suami.


Mati Dalam hidup

Laku ahli tarikat, ibarat mati di dalam hidup, semata-mata hanya mematuhi kehendak Tuhan. Kemudia dijelaskan tentang empat macam tapa, yaitu tapa ngeli : “berserah diri dan mematuhi sembarang kehendak Tuhan, tapa geniara : “tidak sakit hati apabila dipercakapkan orang”, tapa banyuara : “mampu menyaring kata dan tutur kata sanak saudara, tidak terpengaruh orang lain, hanya mematuhi nasehat suami”, dan tapa Ngluwat : “tidak membanggakan kebaikan, jasa maupun amalanya”. Terhadap sesama selalu bersikap rendah hati dan tidak gemar cekcok, lagi pula ia menyadari bahwa setiap harinya manusia selalu harus pandai-pandai memerangi gejolak hawa nafsu yang akan menjerumuskan dalam kesesatan. Mempunyai pengertian yang mendalam bahwa pada hakikatnya manusia sebagai makhluk Tuhan, adalah sama, setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan.


Lakune ahli tarikat, atapa pucuking wukir, mungguh Hyang Suksma parenga, amati sajroning urip, angenytaken ragi, suwung tan ana kadulu, mulane amartapa, mrih punjul samining janmi, wus mangkana kang kandheg aneng tarekat.

Terjemahan :

Laku ahli tirakat adalah bertapa di puncak gunung, sekiranya Tuhan meridhoi mati di dalam hidup, menghanyutkan diri, kosong tidak ada yang terlihat, oleh karena itu bertapa agar melebihi sesamayan, demikianlah barang siapa yang terhenti pada tarikat.

Dhihing ingkang aran tapa, iya ngeli lire pasrah ing Widi, apa karsane Hyang Agung, iya manut kewala, kadya sarah kang aneng tengahing laut, apa karsaning Pangeran, manungsa darma nglakoni.

Terjemahan :

Pertama, yang disebut tapa ngeli yakni, mengahayutkang diri, artinya berserah diri kepada Tuhan, sebarang kehendak-Nya patuhi sajalah, ibarat sampah di tengah laut, sebarang kehendak Tuhan manusia hanya pelaksana semata.


Ping kalih kang aran tapa , geniara adadi laku ugi, ana dene artinipun, malebu dahana, lire lamun kabrangas ing ujar …. den ucap ing tangga, apan ta nora sak serik.

Terjemahan :

Kedua, yang disebut tapa geniara menjadi laku juga, adapun artinya ialah masuk kedlam api, maksudnya jika terbakar oleh kata-kata dan dipercakapkan tetangga tidak sakit hati.


Ping tiga ran bayuara, ya tapaning estri ingkang utami, lire bangkit nyaring tutur, rembuge pawong sanak, tan gumampang anggugu, kang tinekadken ing driya, pituturing guru laki.

Terjemahan :

Ketiga, disebut banyuara, yakni tapanya istri utama, artinya mampu menyaring kata-kata  atau tutur kata sanak saudara, tidak mudah mengikuti dan meniru orang lain, dalam hati bertekad mematuhi nasehat suami.


Tapa kang kaping sekawan, tapa ngluwat mendhem sajroning bumi, mengkene ing tegesipun, aja ngatonken uga, marang kabecikane dhewe puniku, miwah marang ngamalira, pendhemen dipun arumit.

Terjemahan :

Tapa yang keempat adalah tapa ngluwat, memendam diri di dalam tanah, beginilah maksudnya ; jangan memperlihatkan juga kebaikan diri sendiri, demikian pula amalmu pemdamlah dalam-dalam.


Lawan malih yayi sira, dipun andhap asor marang sasami, nyingkirana para padu, utamane kang lampah, tarlen amung wong bekti marang Hyang Agung, iku lakuning manungsa, kang menang perang lan iblis.

Terjemahan :

Lagi pula dinda, bersikaplah rendah hati terhadap sesama, jauhilah sifat gemar cekcok, seyogyanya laku itu tiada lain hanya hanya berbakti kepada Tuhan Yang Maha Agung, itulah laku manusia yang menang berperang dengan iblis.


Iku benjang pinaringan, ganjaran gung kang menang lawan iblis, langkung dening adiluhung, suwargane ing benjang, wus mangkono karsane Hyang Mahaluhur, perang lan iblis punika, sajatining perang sabil.

Terjemahan :

Kelak akan mendapat annugerah besar, barang siap menang melawan iblis, sangat indah mulia surga firdausnya kelak, memang demikianlah kehendak Tuhan yang Mahaluhur, perang melawan iblis itu nyata-nyata perang sabil.


Yayi perang sabil punika, nora lawan si kopar lawan si kapir, sajroning dhadha punika, ana prang bratayudha, langkung rame aganti pupuh-pinupuh, iya lawan dhewekira, iku latining prang sabil.


Terjemahan :


Dinda, perang sabil itu bakan melawan kafir saja, di dalam dada itu ada perang baratayuda, ramai sekali saling pukul-memukul yaitu perang melawan dirinya nafsu, itulah sesungguhnya perang sabil.


Kutipan diatas bermakna bahwa sebagai hamba Tuhan sikapnya hendaklah selalu sadar percaya, dan taat kepada-Nya. Dalam mengarungi samudra kehidupan, agar tidak sesat. Kecuali itu, karena menurut kodratnya manusia bukan makhluk soliter, yang dapat hidup sendiri, memenuhi segala kebutuhan sendiri, melainkan adalah makhluk sosial. Dalam tata pergaulan hidup bermasyarakat hendaklah mematuhi nilai-nilai hidup dan mempunyai watak terpuji, ialah sabar penuh pengertian, berbudi luhur, rendah hati, tidak cenderung mencela dan mencampuri urusan orang lain, jujur, tulus ikhlas, tidak angkuh maupun congkak, tidak iri maupun dengki dan bersyukur atas barang apa yang telah dicapai berkat ridla Tuhan. Di samping itu hendaklah sadar bahwa manusia itu bersifat lemah, ibarat wayang yang hanya dapat bergerak atas kuasa dalang.


Sifat Ahli Hakikat


Lakune ahli hakekat, sabar lila ing donyeki, laku sirik tan kanggonan, wus elok melok kaeksi, rarasan dadi jati, ingkang jati dadi suwung, swuh sirna dadi iya, janma mulya kang sejati, pun pinasthi donya ngakir manggih beja.

Terjemahan :

Laku ahli ahli hakikat adalah, sabar ikhlas di dunia, tidak musrik, nyata-nyata telah tampak jelas,pembicaraan menjadi kesejatian, yang sejati menjadi kosong, hilang lenyap menjadi ada, manusia mulia yang sejati, telah dipastikan ia didunia akhirat mendapat kebahagian.


Sang wiku dhawuh ing garwa, ingkang aran bumi pitung prakawis, kang aneng manungsa iku, pan wajib kaniwruhan, iku yayi minangka  pepaking kawruh, yen sira nora weruha, cacad jenenge wong urip.


Terjemahan :


Sang pertapa berkata kepada istrinya, yang dinamai tujuh lapis bumi, yang ada pada diri manusiaitu, wajib diketahui, dinda itu sebagai kelengkapan ilmu, jika kau tidak mengetahuinya, cacad namanya bagi orang hidup.


Bumi iku kawruhana, ingkang aneng badan manungsa iki, sapisan bumi ranipun, ingaranan bumi retna, kapindho ingkang aran bumi kalbu, bumi jantung kaping tiga, kaping catur bumi budi.


Terjemahan :


Katahuilah bumi, yang ada pada tubuh manusia itu, pertama namanya bumi retna, yang kedua bernama bumi kalbu, ketiga bumi jantung, keempat bumi budi.


Ingkang kaping lima ika, bumi jinem arane iku yayi, kaping nenem puniku, ingaranan bumi suksma, ping pitune bumi rahmat aranipun, dhuh yayi pupujan ingwang, tegese ingsun jarwani.

Terjemahan :

Yang kelima, bumi jinem namanya, yang keenam dinda, dinamai bumi sukma, ketujuh bumi rahmat namanya, aduhai dinda pujaanku, artinya ku jelaskan begini.


Ingkang aran bumi retna, sajatine dhadhanira maskwari, bumine manungsa tuhu, iku gedhong kang mulya, iya iku astanane islamipun, dene kaping kalihira, bumi kalbu iku yayi.

Terjemahan :

Yang dinamai bumi retna, sesungguhnya dadamu dinda, benar-benar bumu manusia, itu gedung mulia, menurut islam itu istana, adapun yang kedua, itu bumi kalbu dinda.


Iku yayi tegesira, astanane iman iknag sejati kaping tiga bumi jantung, yaiku ingaranan, astanane anenggih sakehing kawruh, lan malih kaping patira, kang ingaranan bumi budi.

Terjemahan :

Adapun artinya, istana iman sejati ketiga bumi jantung, yaitu dinamai istana semua ilmu, dan lagi yang keempat, yang dinamai bumi budi.


Iku yayi, tegesira, astanane puji kalawan dzikir, dene kaping gangsalipun, bumi jenem puniku, iya iku astane saih satuhu, nulya kang kaping nemira, bumi suksma sun wastani.


Terjemahan :


Dinda, itu artinya istana puji dan dzikir, adapun yang kelima , bumi jinem itu, istana kasih sejati, kemudian yang keenam, kunamai bumi sukma.


Ana pun tegesira, astananing sabar sukur ing Widi, anenggih kang kaping pitu, ingaranan bumi rahmat, kawruhana emas mirah tegesipun, astananing rasa mulya, gantya pipitu kang langit.


Terjemahan :


Adapun artinya, istana kesabaran dan rasa syukur kepada Tuhan, adapun yang ketujuh, dinamai bumu rahmat, dinda sayang, ketahuilah artinya, istana rasa mulia, kemudian berganti tujuh langit.


Kang aneng jroning manungsa, kang kaping pisan ingaranan roh jasmani, dene kaping kalihipun, roh rabani ping tiga, roh rahmani nenggih ingkang kaping catur roh rohani aranira, kaping gangsal ingkang langit.

Terjemahan :

Yang ada dalam diri manusia, yang pertama disebur roh jasmani, adapun yang kedua roh rohani, ketiga roh rahmani, yang keempat roh rohani namanya, langit yang kelima.


Roh nurani aranira, ingkang kaping nenem arane yayi, iya roh nabati iku, langit kang kaping sapta, eroh kapi iku yayi aranipun, tegese sira weruha, langit roh satunggil-tunggil.

Terjemahan :

Roh nurani namanya, yang keenam dinda, ialah roh nabati, langit yang ketujuh, roh kapi itu dinda namanya, ketahuilah artinya langit roh masing-masing.


Tegese langit kapisan, roh jasmani mepeki ing ngaurip, aneng jasad manggonipun, langit roh rabaninya, amepeki uripe badan sakojur, roh rahmani manggonira, mepeki karsanireki.

Terjemahan :


Arti langit pertama, roh jasmani memenuhi kehidupan, di tubuh tempatnya, langitroh rabani, memenuhi hidup sekujur tubuh, roh rahmani tempatnya, memenuhi pada kehendakmu.


Langit roh rohani ika, amepeki ing ngelminira yayi, langit roh nurani iku, mepeki cahya badan, roh nabati amepeki idhepipun, iya ing badan sedaya, langit roh kapi winilis.


Terjemahan :


Langit roh rohani itu, memenuhi dalam dirimu, langit roh nurani itu, memenuhi cahaya tubuh, roh nabati memenuhi pikiranmu, dan seluruh tubuh, langit roh kapi disebut-sebut.


Mepeki wijiling sabda, pan wus jangkep cacahing pitung langit, eling-elingen ing kalbu, apa kang wus kawedhar, amuwuhi kandeling iman, ……….

Terjemahan :

Memenuhi terbabarnya sabda, telah lengkaplah jumlah tujuh langit, ingat-ingatlah dalam hati, apa yang telah terungkap, menambah tebalnya iman.

Laku ahli hakikat adalah sabar, tawakal, tulus iklas. Pada tahap ini manusia telah mengenal jati dirinya, yang dilambangkan terdiri dari atas tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit sebagai kelengkapan ilmu. Kesemuanya berasal dari Tuhan, dan semua itu menambah tebalnya iman. Wujudnya sebagai wadah ilmu, dan ilmunya ada pada Tuhan. Manusia yang telah memahami ilmu Tuhan, tidak berpikiran sempit, kerdil atau fanatik, dan tidak pula takabur. Ia justru bersikap toleran, tenggang rasa, hormat-menghormati keyakinan orang lain, karena tahu bahwa ilmu sejati, yang nyata-nyata bersember satu itu, hakikatnya sama. Ibarat sungai-sungai dari gunung manapun mata airnya, pasti akan bermuara ke laut juga. Sebaliknya jikalau ia memperdebatkan kulit luarnya, berarti beranggapan benar sendiri, dan belum sampai pada inti ajaran yang dicari. Orang yang telah sampai tahap hakikat, tidak munafik dan tidak mempersekutukan Tuhan.


Inkang ana jroning badan kabeh, pan punika saking Hyang Widi, wujud ingkang pasthi, wawadhahing ngelmu.

Terjemahan :

Semua yang ada di dalam tubuh, itu dari Tuhan, wujud yang pasti, sebagai tempat ilmu.


Iya ngelmu ingkang denwadhahi, ana ing Hyang Manon, poma iku weling ingsun angger, den agemi lawan den nastiti, tegese wong gemi, ywa kongsi kawetu.

Terjemahan :

Ilmu yang diwadahi, ada pada Tuhan, teristimewa sekali pesanku nak, hemat dan telitilah, arti orang hemat, jangan sampai keluar.


Dene ta tegese wong nastiti, saprentah Hyang Manon, den waspada sabarang ngelmune, terusana lahir tekeng batin, ywa padudon ngelmu, lan wong liya iku.

Terjemahan :

Adapun arti orang teliti, akan semua perentah Tuhan, hendaknya waspada terhadap sabarang ilmu, seyogyanya teruskanlah lahir sampai batin, jangan bercekcok tentang ilmu, dengan orang lain.


Yen tan weruh ngelmune Hyang Widi, tuna jenenging wong, upamane kaya kali akeh, ana kali gedhe kali cilik, karsanira sami, anjog samudra gung.

Terjemahan :

Jika tidak mengetahui ilmu Tuhan, berarti rugi sebagai manusia, ibarat seperti sungai banyak, ada sungai besar ada sungai kecil, kehendaknya sama, bermuara di samudra raya.


Sasenengan nggennya budhal margi, ngetan ana ngulon, ngalor ngidul saparan-parane, suprandene samyanjog jaladri, ywa maido ngelmi, tan ana kang luput.

Terjemahan :

Sesuka hati orang mencari jalan, ada yang ketimur, kebarat ke utara ke selatan dan kemana saja perginya, tetapi semua bermuara di laut, jangan mempercayai ilmu, tak ada yang keliru.


Lir kowangan kang cupet ing budi, sok pradondi kawruh, sisih sapa ingkang nisihake, bener sapa kang mbeneraken yayi, densarwea pasthi, amung ngajak gelut.

Terjemahan :

Ibarat kumbang air yang berbudi picik, kadang bertengkar ilmu, bila salah siapakah yang menyalahkan, bila benar siapa yang membenarkan dinda, jika singgung pasti, hanya mengajak bergelut.


Papindhane wong sumuci suci, iku kaya endhog, wujud putih amung jaba bae, njero kuning pangrasane suci, iku saking warih, warna cilam-cilum.


Terjemahan :


Ibarat orang yang mengaku suci, seperti telur, berwujud putih hanya luarnya saja, dalamnya kuning menurut perasaannya suci, itu dari air, berubah-ubah.


Wong mangkana tan patut tiniru, yayah kayu growong, isinira tan liyan mung telek, nadyan bisa tokak-tokek muni, tan pisan mangerti,  ucape puniku.

Terjemahan :

Orang seperti itu tidak patut dicontoh, seperti kayu berlubang, isinya tidak lain hanya tokek, sekalipun bisa berbunyi tekek-tekek, sama sekali tidak mengerti, apa ucapanya itu.


Poma yayi den angati-ati, ujar kang mangkono, den karasa punika rasane, rinasakna sucine wong ngelmi, kang kasebut ngarsi, lir sucining kontul.

Terjemahan :

Teristemewa sekali dinda berhati-hatilah, kata seperti itu, rasakanlah hahekatnya, rasakanlah kesucian orang berilmu, yang tersebut didepan, seperti kesucian burung bagau.


Kicah-kicih anggung saba wirih, angupaya kodhok, lamun oleh pinangan ing enggen, wus mangkono watak kontul peksi, sandhange putih, panganane rusuh.

Terjemahan :

Berulangkali selalu pergi di tempat berair, mencari katak, jika telah dapat dimakan ditempat, memang demikian perangai burung bagau, pakaiannya putih, makanannya kotor.


Ywa mangkono yayi wong ngaurip, poma wekas ingong, den prayitna rumeksa badane, aywa kadi watak kontul peksi, mundhak niniwasi, dadi tanpa dunung.

Terjemahan :

Dinda, janganlah demikian orang hidup, teristemewa sekali pesan ku, berhati-hatilah menjaga tubuh, jangan seperti perangai burung bangau, karena memyebabkan celaka, sehingga tanpa tujuan.


Mituhua pitutur kang becik, yayi den kalakon, nyingkir ana jubriya kibire, lan sumungah aja anglakoni.

Terjemahan :


Patuhilah nasihat utama dinda, semoga terlaksana, singkirkan watak congkak dan takabur, dan jangan pula angkuh.

Senin, 02 Mei 2016

SERAT WULANG REH PAKU BUANA X BAGIAN IV






Pupuh
KINANTHI


  1. Dene ta pitutur ingsun / marang putraningsun estri / den eling ing aranira / sira pan ingaran putri / puniku putri kang nyata / tri tetelu tegesneki //.

  2. Bekti nastiti ing kakung / kaping telune awedi / lahir batin aja esah / anglakoni satuhuning / laki ciptanen bendara / mapan wong wadon puniki //

  3. Wajib manut marang kakung / aja uga amapaki / marang karepe wong lanang / sanadyan atmajeng aji / alakiya panakawan / sayekti wajib ngabekti //

  4. Kalamun wong wadon iku / angrasa mengku mring laki / ing batine amarentah / rumangsa menang mring laki / nora rumangsa wanodya / puniku wataking laki //

  5. Iku wong wadon kepahung / bingung bintang kena wening / tan wurung dadi ranjapan / ing dunya tuwin ing akhir / dadi intiping naraka / kalabang lan kalajengking //

  6. Ingkang dadi kasuripan / sajroning naraka benjing / iku wong wadon candhala / iku tan bisa merangi / ing nepsu kala hawa / amarah kang den tutwuri //

  7. Iku poma putraningsun / anggonen pitutur iki / den wedi ing kakung nira / aja dumeh suteng aji / yen sira nora bektiya / ing laki tan wande ugi //

  8. Anggagawa rama ibu / kurang pamuruking siwi / iku terkaning ngakathah / apan esaningsun iki / marang Allohu Tangala / miwah ing Rosullullahi //

  9. Sakabehe anak ingsun / pawestri kang kanggo laki / kinasihan ing kang priya / pan padha bektiya laki / padha lakinya sapisan / dipun kongsi nini-nini //

  10. Maksih angladeni kakung / sartaa dipun welasi / angoyoda arondhowa / warege amomong siwi / lan nini pitutur ingwang / estokna ing lahir batin //

  11. Lawan ana kojah ingsun / saking eyangira swargi / pawestri iku elinga / lamun ginawan dariji / lilima punika ana / arane sawiji-wiji //

  12. Jajempol ingkang rumuhun / panuduh ingkang ping kalih / panunggul kang kaping tiga / kaping pat dariji manis / kaping gangsale punika / ing wekasan pan jajenthik //

  13. Kawruha sakarsanipun / mungguh pasmoning Hyang Widhi / den kaya pol manahira / yen ana karsane laki / tegese pol kang den gampang / sabarang karsaning laki //

  14. Mila ginawan panuduh / aja sira kumawani / anikel tuduhing priya / ing satuduh anglakoni / dene panunggul suweda / iku sasmitaning ugi //

  15. Priyanta karyanen tangsul / miwah lamun apaparing / sira uga unggulena / sanadyan amung sathithik / wajib sira ngungkulena / mring guna kayaning laki //

  16. Marmane sira punika / ginawan dariji manis / dipun manis ulatira / yen ana karsaning laki / apa dene yen angucap / ing wacana kudu manis //

  17. Aja dosa ambasengut /nora maregaken ati / ing netra sumringah / sanadyan rengu ing batin / yen ana karsaningpriya / buwangen aja na kari //

  18. Marmane ginawan iku / iya dariji jajenthik / dipun angthag akethikan / yen ana karsaning laki / karepe kathah thik-thikan / den tarampil barang kardi //

  19. Lamun angladasi kakung / den keba nanging den ririh / aja kebat gerobyagan / dreg-dregan sarya cicincing / apan iku kebat nistha / pan rada ngose ing batin //

  20. Poma-poma wekasingsun / marang putraningsun estri / muga padha den anggowa / wuruke si bapa iki / yen den lakoni sadaya / iba saiba ta nini //

  21. Si bapa ingkang ananggung / yen den anggowa kang weling / wus pasthi amanggih mulya / ing donya tuwin ing akhir / lan aja manah anyimpang / dipun tumemen ing laki //

  22. Den maruwa patang puluh / tyasira aja gumingsir / lahir batin aja owah / angladeni marang laki / malah sira upayakna / wong wadon kang becik-becik //

  23. Parawan kang ayu-ayu / sira caosna ing laki / mangkono patrape uga / ngawruhi karsaning laki / pasthi dadi ing katresnan / yen wong lanang den tututi //

  24. Yen wong wadon nora angsung / bojone duweya selir / mimah lumuh den wayuh / iku wong wadon penyakit / nora weruh tata karma / daliling Qur’an mastani //

  25. Papadhane asu bunting / celeng kobong pamaneki / nora pantes pinecakan / nora wurung mamarahi / den doh sapitung pandahat / aja anedya pinikir //

  26. Kaya kang mangkono iku / balik kang dipun nastiti / marang wuruke si bapa / darapon manggih basuki / kayata yen maca layang / tingkahing wanodya adi //

  27. Pagene ta nedya tiru / kalawan ewa pawestri / kang kinasihan ing priya / apa pawestri parunji / miwah ta estri candhala / apa nora kedhah-kedhih //

  28. Ingkang kinasihan kakung / kabeh pawestri kang bekti / kang nastiti marang priya / dene estri kang parunji / candhala pan nora nana / den kasihi marang laki //

  29. Malah ta kerep ginebug / dadine wong wadon iki / tanpa gawe maca layang / tan gelem niru kang becik / mulane ta putraningwang / poma-poma dipun eling //

  30. Marang ing pitutur ingsun / muga ta Hyang Maha Suci / netepana elingira / marang panggawe kang becik / didohna panggawe ala / siyasiya kang tan becik //

  31. Titi tamat layang wuruk / marang putraningsun estri / Kemis Pon ping pitu sura / Kuningan Be kang gumanti / esa guna swareng nata / Sancaya hastha pan maksih /


PUPUH
KINANTHI

  1. Bahwa ajaranku (nasihatku), kepada anak perempuanku, agar ingat akan namamu, engkau disebut putri, itu putri yang sejati, tiga, ketiganya ini maksudnya.

  2. Bebakti dan cermat kepada suami, yang ketiga takut, lahir batin jangan mengeluh, melaksanakan yang satu, jadikanlah suamimu orang terhormat, bukankah perempuan itu.

  3. Wajib menurut kepada suami, jangan menghalang-halangi, akan kehendaksuami, walaupun putra raja, mengabdilah kepada suami, harus benar-benar berbakti.

  4. Apabila wanita itu, merasa menguasai laki-laki, dalam batinnya memerintah, merasa menang dengan suami, tidak merasa sebagai wanita, itu wataknya laki-laki.

  5. Wanita jahat, bingung hatinya, tidak urung menjadi orang tercela, di dunia hingga akhirat, menjadi dasar neraka, kelabang dan kalajengking.

  6. Yang menjadi alasnya, di neraka kelak, itu wanita tercela, yang tidak dapat mengendalikan, hawa nafsu, amarah yang diikuti.

  7. Inilah anakku, pakailah ajaran ini, takutlah kepada suami, jangan merasa takabur (sombong) sebagai putri raja, jika engkau tidak berbakti, kepada suami tidak urung juga

  8. Membawa bapak ibu, kurang memberikan petuah pada anak, itu prasangka orang banyak, permintaanku ini, kepada Allah Taala, dan kepada Rasulullah.

  9. Semua putraku, yang putri terpakailah oleh suami, semoga dikasihi oleh suami, dan berbaktilah kepada suami, bersuamilah sekali saja, mudah-mudahan sampai neneknenek.

  10. Tataplah melayani suami, serta dikasihi, dapatlah memberikan keteduhan, semoga puas mengasuh anak, dan nasihatku kepadamu, hendaknya ditaati lahir dan batin.

  11. Dan ada pesan, dari mendiang kakekmu, ingatlah bahwa perempuan itu, dibekali jari, kelimanya itu ada, apabila dirinci mempunyai arti.

  12. Ibu jari yang pertama, telunjuk yang kedua, jari tengah yang ketiga, keempat jari manis, yang kelima itu, yang terakhir adalah kelingking.

  13. Ketahuilah maksudnya, isyarat Hyang Widhi, ibaratnya sepenuh hati, jika ada kehendak suami, arti yang mudah sepenuh hati, segala kehendak suami.

  14. Maka engkau dibekali telunjuk, janganlah engkau berani, apabila suamimenunjukkan, cepatlah melaksanakan, dengan jari tengahmu, itu juga isyarat.

  15. Suamimu jadikanlah pengikat, dan apabila memberikan sesuatu, kepadamu junjunglah, walaupun hanya sedikit, engkau wajib menjunjung, akan penghasilan suami.

  16. Maksudnya engkau, dibekali jari manis, buatlah “manis” roman mukamu, jika berada di depan suami, apabila jika bicara, pergunakanlah kata-kata yang manis.

  17. Janganlah pemarah dan bermuka masam, itu tidak menarik hati, roman muka dibuat gembira, walaupun sedang kesal hatinya, jika berada di depan suami, buanglah jangan sampai ketinggalan.

  18. Oleh karena itu dibekali, juga jari kelingking, ditimbang-timbang, jika ada kemauan suami, maksud ditimbang-timbang adalah, agar terampil dalam bekerja.

  19. Jika melayani suami, yang cepat namun halus, jangan cepat namun kasar, tergesagesa dan tidak tenang, bukankah itu cepat namun tercela, sebab dalam hati agar marah.

  20. Demikianlah pesanku, kepada putra perempuanku, semoga dilaksanakan, ajaran bapak ini, jika engkau laksanakan semua, begitulah anakku.

  21. Bapak yang menanggung, jika engkau laksanakan pesanku, sudah tentu menemukan kebahagiaan, di dunia dan di akhirat, dan hati jangan menyimpang, bersungguhsungguh terhadap suami.

  22. Walaupun dimadu berjumlah empat puluh, hatimu jangan berubah, lahir dan batin jangan berubah, melayani suami, usahakanlah, wanita yang baik-baik.

  23. Gadis yang cantik-cantik, serahkanlah kepada suami, demikian itu sifat, mengerti kehendak laki-laki, pasti memupuk cinta kasih, jika suami dibuat puas hatinya.

  24. Jika wanita tidak merelakan, suaminya mempunyai selir, dan tidak suka dimadu, itu wanita tercela, tidak tahu tata krama, menurut dalil Qur’an.

  25. Sama dengan anjing buntung, diumpamakan celeng terbakar, tidak pantas didatangi, tidak urung membuat, supaya dijauhkan tujuh ukuran, janganlah terus dipikir.

  26. Hal seperti itu, agar diteliti kembali, ajaran san bapak, dimaksudkan untuk mendapatkan selamat, ibaratnya membaca surat, tingkah laku wanita luhur.

  27. Mengapa tidak ditiru, oleh para istri, yang dikasihi oleh suami, apakah wanita jahat, dan wanita tercela, apa tidak segan-segan.

  28. Yang dikasihi oleh suami, suami wanita yang berbakti, yang teliti terhadap suami, namun wanita yang jahat, tercela, tidak ada yang dikasihi suami.

  29. Bahkan sering dipukul, wanita yang begini, tidak ada gunanya membaca surat, tidak mau meniru yang baik, oleh sebab itu anakku, ingat-ingatlah.

  30. Ajaranku (nasihatku) ini, semoga Hyang Maha Suci, tetap memberikan kesadaran, terhadap perbuatan yang baik, dijauhkan dari perbuatan jahat, aniaya yang tidak baik.

  31. Tamatlah surat ajaran (nasihat), kepada putra putrinya, Kamis Pon tanggal 7 Sura, Kuningan tahun Be, dengan Candrasangkala “esa guna swareng nata”, Windu sancaya yang ke delapan.

SERAT WULANG REH PAKU BUANA X BAGIAN III





 Pupuh
DHANDHANGGULA

  1. Lenggah madyeng pandhapa Sang Aji / lan kang garwa munggwing nging dhadhampar / panganten estri kalihe / munggwing ngarsa Sang Prabu / duk wineling kang putra kalih / winuruk ing masalah / angladosi kakung / Prabu Tarnite ngandika / anak ingsun babo den angati-ati / abagus lakinira //

  2. Suteng nata prajurit sinekti / tur kinondhang Sang Prabu Jenggala / amumpuni sarjanane / ing pramudita kasub / wicaksana alus ing budi / prawira mandraguna / prakoseng dibya nung / ratu abala kakadang / amepeki musthikane wong sabumi / taruna nateng Jawa //

  3. Marma babo dibegjanireki / sinaruwe mring prabu Jenggala / pira-pira ing maripe / ing Jawa nggoning semu / wit sasmita wingiting janmi / babo dipangupaya/wiweka weh sadu / mungguhing paniti krama / wong alaki tadhah sakarsaning laki / padhanen lan jawata //

  4. Nistha madya utama den eling/utamane babo wong akrama / jawata nekseni kabeh / pan ana kang tiniru / Putri Adi Manggada nguni / wido dari kungkulan / ing sawarnanipun / lan sinung cahya murwendah / Citrawati sinembah ing wido dari / Putri Adimanggada //

  5. Garwanira rajeng Mahespati / Sri Mahaprabu Harjuna Sasra / tinarimeng Batharane / dennya ngugung mring kakung / mila prabu ing Mahespati / katekan garwa dhomas / saking garwanipun / putri Manggada kang ngajap / sugih maru akeh putri ayu luwih / yen ana kinasihan //

  6. Mring kang raka Prabu Mahespati / Putri Manggada sigra anyandhak / kinadang-kadang yektine / jinalukaken wuwuh / ing sihira kang raka aji / pan kinarya sor-soran / kang raka anurut / dadya sor-soran sakawan / Citrawati saking panjunjungireki / tinurut dening raka //

  7. Lega ing tyas anrus ing wiyati / murtining priya putri Manggada / limpat grahitane sareh / iku yogya tiniru / Citrawati guruning estri / nini iku utama / suwita ing kakung / tan ngarantes pasrah jiwa / raga nadyan anetep den irih-irih / ing raka tan lenggana //

  8. Nora beda nini jaman mangkin / ingkang dadituladan utama / putri Manggada anggepe / suraweyan Sang Prabu / manthuk- manthuk atudhang- tudhing/ putra kalih gung nembah /ing rama Sang Prabu /poma nini dipun awas / pan wano dyaden cadhang karsaning laki / den bisa nuju karsa //

  9. Aja rengu ing netra den aris / angandika Prabu Geniyara / tan kapirsan andikane / mung solah kang kadulu /heh ta nini madyaning krami / sumangga ing sakarsa / tan darbe pakewuh / manut sakarsaning raka / Citrawati waskitha solahing laki / mila legawa tama //

  10. Nisthaning krama sawaleng batin / ing lahire nadyan lastari  ya / ing wuri sumpeg manahe / ing pangarepan nyatur / nora wani mangke ing wuri / tyase agarundhelan / mongkok-mongkok mungkuk/ ing batin ajape ala / iya aja ana wadon kang den sihi / ngamungna ingsun dhawak //

  11. Tan kawetu mung ciptaneng batin / nisthanira tan wus saking driya / durjana iku ambege / pasthi den bubuk mumuk / bumi langit padha nekseni / nalutuh ing sajagad / dosane gendhukur / wido dari akeh ewa / ing delahan ing nraka den engis-engis / ing widodari kathah //

  12. Lamun nini nira den pasrahi / raja brana ing priya den angkah / branane wus den wehake /sayekti duwekingsu/ iku anggep wong trahiyoli / luwih nisthaning nistha / pakematan agung /dudu anggepe wong krama / baberan duba ruwun setan kaeksi / dudu si pating jalma //

  13. Setan kere pan anggawa lading / thethel–thethel balung wus binuwang / jejenising jagad kabeh / bebete wong anglindur/ tanpa niyat duwe pakarti / buru karep kewala / mring darbeking kakung / sanadyan pepegatana / duwek iku jer wus dadi duwek mami / jer ingsun wus digarap //

  14. Yeku budi satus trahiyoli / papalanyahan murka anungsang / nyilakani ing tanggane / lakon pitung panguwuh / ing tanggane kang denulari / aja na sasandhingan / wong mangkono iku / yekti kasrengat cilaka / bonggas gawe asandhing wong kena pidhir / reregede sajagad //

  15. Gawe kurang ambiyanireki /lah usungen dunya ing Mekasar / mung aja amurang bae / aja toleh maring / anggegawa regeding ati / lamun sira anyipta / yen atmajeng ratu / dadi gungan ing tyasira / wong akrama katon wong tuwanireki / anggandelaken ala //

  16. Ing akrama estri dadi adi / wus tinitah ing Suksma Kawekas /wus mangkana titikane/karsaning bathara gung / pangulahing hyang Hudipati / yen ana kang anerak / wong mopo ing tuduh / Bathara Suksma Kawekas / babendhu manungsa kang den upatani / dadi warit sakala //

  17. Saya lamun di suka ing Widhi / dadi manggih apureng delahan / kalamun den ingu bae / di sukana ing besuk / yeku ingkang ambab ayani / tanpa dadi delahan / yen mangkono kontang / poma nini den suwita / marang laki yen sira ginawa benjing / mulih mring lakinira //

  18. Sampun telas pitutur sang Aji / ing Tarnite Prabu Geniyara / sri atmaja kakalihe / pan prakara satuhu / yen tiruwa pasthi abecik / aja dumeh wong Buda / kang duwe pitutur / kaya sang raja ing Cina / aja dumeh-dumeh / kalamun wong kapir / tur majusi kapirnya //

  19. Nanging pitutur apan prayogi / mapan pirit pinet ing sarapat / lan kadis Rosulullohe / eklasna putraningsun / didimena raharjeng krami / nyuwargakken wong tuwa sira yen mituhu / marang wuruke si bapa / apan ana tatandhane ingkang becik / anganthia kang raharja //


PUPUH
DHANDHANGGULA

  1. Sang raja duduk di tengah pendopo, dan sang istri berada di singgasana, kedua mempelai putri, berada di depan sang raja, kedua putrinya diberi pesan, diajarkan suatu hal, tentang melayani suami, Raja Ternate berkata, “anakku, berhatihatilah!, baik-baiklah pada suami”.

  2. Putra raja prajurit sakti, dan dikenal oleh Sang Prabu Jenggala, memiliki banyak kepandaian, akan kesenangan dan kemashuran, bijaksana dan berbudi halus, perwira yang agung (perkasa), kuat badannya, raja bertentara sanak saudara, mendekati keindahan orang sedunia, raja muda di Jawa.

  3. Bahwa keberuntungan itu, diperhatikan oleh Raja Jenggala, berapa banyak saudara ipar, di Jawa tempat tersamar, dan isyarat juga sampai di luar, berusaha memimpin, berhati-hati pada orang suci, bahwa di dalam ajaran tata krama, orang berumah tangga hendaknya menurut laki-laki, samakanlah dengan dewa.

  4. (orang) rendah, sedang, dan utama, ingatlah, terutama orang berumah tangga, semua dewa menyaksikan, bukankah ada yang ditiru, putri cantik dari Adimanggada, melebihi bidadari, dari segala warna, dan diberi sinar keutamaan yang indah, Citrawati disembah oleh bidadari, putri cantik Adimanggada.

  5. Istri raja Mahespati, Sri Mahaprabu Harjunasasra, diterima oleh dewa, karena menyanjung suaminya, karena itu raja Maespati, mendapat putri delapan ratus, dari istrinya, putri Magada menginginkan, memiliki madu yang banyak dan cantik-cantik, apabila ada yang dikasihi.

  6. Oleh suaminya raja Mahespati, putri Manggada segera mengambilnya, sebagai saudara kandungnya, dimintakan tambah, kasih sayang suaminya, dikerjakannya terus menerus, maka suami akan menurut, menjadi teman selamanya, usaha Dewi Citrawati, diturut oleh suaminya.

  7. Lega dan terangnya hati tak terhingga, pikiran yang dimiliki oleh putri Manggada, pandai dan berperasaan kepada orang lain, itu baik untuk ditiru, Citrawati sebagai guru wanita, anakku itu utama, mengabdi kepada suami, tidak merana menyerahkan jiwa, apabila raja dilindungi, dikasihi, yang tak terduga oleh suami.

  8. Tidak berbeda dengan zaman yang akan datang, yang menjadi teladan, hanya putri Manggada yang dipercaya, sang raja asyik, mengangguk-angguk dan menunjuk, kedua putrinya menghaturkan sembah, kepada ayahnya. “Anakku, waspadalah, bukankah wanita itu menerima segala kehendak suami”, dapatlah mengerti kemauannya.

  9. Jangan ragu-ragu dalam memandang, sang raja Geniyara berkata, tidak terdengar kata-katanya, hanya gerak-gerik yang terlihat, bahwa di dalam berumah tangga, pasrah pada kehendak (suami), tidak memiliki rasa sungkan, menurut kehendak suami, Citrawati memahami gerak hatinya, maka berada dalam keutamaan.

  10. Hal yang nistha di dalam batin, walaupun akan lestari, pada akhirnya hatinya bingung, di depan berkata, di belakang tidak berani, di dalam hati mengeluh, di dalam hati berniat tidak baik, jangan sampai wanita yang dikasihi, hanya memikirkan diri sendiri saja.

  11. Hanya dipikirkan di dalam hati, kejelekan orang itu tidak selamanya melekat di hati, orang jahat itu menganggap pasti itu penyakit bodoh, bumi dan langit menyaksikan, kotoran di dunia, dosanya bertumpuk, semua bidadari tidak senang, kelak masuk neraka dan diperolok-olok, oleh bidadari-bidadari.

  12. Namun, anakku jika engkau diberi, harta benda oleh suamimu berhati-hatilah, hartanya sudah diserahkan, hakikatnya kepunyaanmu, itu dianggap orang jahanam, lebih daripada hina, tukang sihir besar, bukan dianggap orang berumah tangga, menabur dupa dan setan menari-nari, bukan sifat makhluk (manusia).

  13. Setan berkeliaran membawa pisau, mengambil tulang yang sudah dibuang, mengotori seluruh dunia, perbuatan orang mengigau, tidak berniat memiliki perbuatan, mengejar kenyang saja, akan harta milik suami, walaupun terjadi perceraian, milikmu sudah menjadi milikku, sebab (saya) sudah diperistri.

  14. Yaitu budinya seratus jahanam, orang yang acak-acakan, membuat celaka tetangga, kotoran berlipat tujuh, tetangga ditulari, jangan didekati, orang seperti itu, pasti akan terkena kejelekannya, tidak ada gunanya berdekatan dengan orang sesat, kotoran sedunia.

  15. Ambillah harta dari Makasar, hanya jangan melanggar kehormatan, jangan mengingat ayahmu, akan membawa kotor hati, apabila berpendapat, bahwa engkau putra raja, menjadi kebanggaan hatimu, orang berumah tangga terlihat oleh orang tua itu, mempertebal/memperbesar kejelekan.

  16. Dalam rumah tangga wanita menjadi terhormat, yang diciptakan oleh Suksma Kawekas, itu sudah pertanda, kehendak Bathara Yang Maha Tinggi, kehendak Hyang Hutipati, jika ada yang menerjang, orang yang tidak mengindahkan petunjuk, Bathara Suksma Kawekas, semoga dihukum disumpah, menjadi “cacing” seketika.

  17. Semakin lama disukai Yang Maha Kuasa, kelak jadilah pemaaf, jika disimpan saja, kena marah nantinya, itu yang berbahaya, tidak akan berhasil nantinya, apabila demikian peruntungannya, maka dari itu anakku dapatlah mengabdi, kepada suami jika kamu dibawa nanti, kembali kepada suamimu.

  18. Sudah selesai nasihat sang raja, Raja Geniyara dari Ternate, kepada kedua putrinya, perkara yang sangat baik, jika ditiru baik manfaatnya, jangan merasa orang “buda”, yang memiliki ajaran, seperti Raja Cina, jangan merasa bahwa kafir itu segalanya, apabila kafirnya orang Mejusi.

  19. Tetapi ini ajaran (nasihat) yang baik, makna yang dikandungnya baik untuk diambil, dan hadis Rasulullah, ikhlaskan anakku, agar bahagia dalam berumah tangga, menjunjung nama orang tua, jika kamu turuti, ajaran (nasihat) ayahmu, berada dalam tanda/alamat yang baik, ajakan menuju kebahagiaan.

SERAT WULAN REH PAKU BUANA X BAGIAN II






Pupuh
ASMARANDANA


  1. Pratikele wong akrami / dudu brana dudu rupa / amung ati paitane / luput pisan kena pisan / yen gampang luwih gampang / yen angel-angel kelangkung / tan kena tinambak arta // .

  2. Tan kena tinambak warni / uger-ugere wong krama / kudu eling paitane / eling kawiseseng priya / ora kena sembrana / kurang titi kurang emut / iku luput ngambra-ambra //

  3. Wong lali rehing akrami / wong kurang titi agesang / Wus wenang ingaran pedhot / titi iku katemenan / tumancep aneng manah / yen wis ilang temenipun / ilang namaning akrama //

  4. Iku wajib kang rinukti / apan jenenging wanita / kudu eling paitane / eling kareh ing wong lanang / dadi eling parentah / nastiti wus duwekipun / yen ilang titine liwar //

  5. Pedhot liwaring pawestri / tan ngamungken wong azina /ya kang ilang nastitine / wong pedhot dherodhot bedhot / datan mangan ing ngarah / pratandhane nora emut / yen laki paitan manah //

  6. Dosa lahir dosa batin / ati ugering manungsa / yen tan pi nantheng ciptane / iku atine binubrah / tan wurung karusakan / owah ing ati tan emut / yen ati ratuning badan //

  7. Badan iki mapan darmi / nglakoni osiking manah / yen ati ilang elinge / ilang jenenging manungsa / yen manungsane ilang / amung rusak kang tinemu / tangeh manggiha raharja //

  8. Iku wong durjana batin/ uripe nora rumangsa / lamun ana nitahake / pagene nora kareksa / ugere wong ngagesang / teka kudu sasar susur / wong lali kaisen setan //

  9. Ora eling wong aurip / uger-uger aneng manah / wong mikir marang uripe / ora ngendhaleni manah / anjarag kudu rusak / kasusu kagedhen angkuh / kena ginodha ing setan //

  10. Pan wus panggawening eblis/yen ana wong lali bungah / setane njoged angleter / yen ana wong lengus lanas / iku den aku kadang / tan wruh dadalan rahayu / tinuntun panggawe setan //

  11. Wong nora wruh maring sisip/ iku sajinis lan setan / kasusu manah gumedhe / tan wruh yen padha tinitah / iku wong tanpa tekad / pan wus wateke wong lengus / ambuwang ugering tekad //

  12. Iku nini dipunelin /lamun sira tinampanan / marang Sang Jayengpalugon /  ya garwane loro ika / putri teka Karsinah / iya siji putri Kanjun / aja sira duwe cipta //

  13. Maru nira loro nini /nadyan padha anak raja / uger gedhe namaning ngong / lan asugih ratu cina / parangakik Karsinah / rangkepa karatonipun / maksih sugih ratu Cina //

  14. Budi kang mangkono nini / buwangen aja kanggonan / mung nganggowa andhap asor / karya rahayuning badan / den kapara memelas / budi ingkang dhingin iku / wong ladak anemu rusak //

  15. Yen bisa sira susupi / tan kena ginawe ala / yen kalakon andhap asor / yen marumu duwe cipta /ala yekti tan teka / andhap asorira iku / kang rumeksa badanira //

  16. Lamun sira lengus nini / miwah yen anganggo lanas/ dadi nini sira dhewe / angrusak mring badanira /marumu loro ika / sun watara Jayengsastru / dadi tyase loro pisan //

  17. Telas pituturireki / mring putra Sang Prabu Cina / prayoga tiniru mangke /marang sakehing wanodya / iki pituturira / ing Tarnite Sang Aprabu / Geniyara gula drawa //


PUPUH
ASMARANDANA

  1. Bekal orang menikah, bukan harta bukan pula kecantikan, hanya berbekal hati (cinta), sekali gagal, gagallah, jika mudah terasakan amat mudah, jika sulit terasakan amat sulit, uang tidak menjadi andalannya.

  2. Tidak bisa dibayar dengan rupa, syarat-syarat orang berumah tangga, harus diingat modalnya, ingat kekuasaan laki-laki, tidak boleh seenaknya, kurang berhati-hati dan kurang waspada, kesalahan yang berlebihan.

  3. Orang yang lupa aturan berumahtangga, orang yang kurang berhati-hati dalam hidupnya, dapat dikatakan sudah rusak, teliti itu artinya bersungguh-sungguh, meresap dalam hati, jika sudah hilang ketelitiannya, hilang nama baik berumah tangga.

  4. Itu kewajiban yang harus dipelihara, karena hanya wanita, harus bermodalkan eling, ingat akan wewenang laki-laki, jadi ingat perintah, berhati-hati sudah menjadi miliknya, apabila tidak berhati-hati maka rusaklah.

  5. Perempuan yang rusak, tidak hanya pada orang berzina, termasuk orang yang tidak berhati-hati (tidak teliti), dinamakan “bejat” moralnya, tidak mengenal arah, pertanda tidak ingat, bahwa berumah tangga bermodalkan hati.

  6. Dosa lahir dan batin, hati menjadi pedoman, jika tidak khusuk ciptanya, pertanda hatinya kacau, bisa menyebabkan kerusakan, berubahnya hati karena tidak ingat, kalau hati itu rajanya badan.

  7. Badan adalah hanya sekadar pelaksana geraknya hati, melaksanakan kemauan hati, jika hati hilang kesadarannya, hilang sifat kemanusiaannya, apabila sifat kemanusiaannya hilang, hanya kerusakan yang didapatkan, tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan.

  8. Itu orang yang jahat, tidak menyadari hidupnya, bahwa hidupnya ada yang mencipta, mengapa tidak dirawat, syaratnya orang hidup, jangan sampai salah langkah, orang yang lupa menjadi prbuatan setan.

  9. Tidak ingat tentang kehidupan, berpedoman pada hati, orang yang mengelak terhadap kehidupan, tidak mengendalikan hati, sengaja ingin merusak, terburuburu tingi hati (sombong), terkena godaan setan.

  10. Memang sudah menjadi perbuatan iblis, jika ada orang lupa menjadi senang, setan menari-nari dengan gembira, jika ada orang pemarah, itu dianggap saudara, tidak melihat jalan kebenaran, mengarah kepada pekerjaan setan.

  11. Orang yang tidak melihat akan kesalahan, itu sejenis dengan setan, tergesa-gesa menjadi tinggi hati, tidak tahu sama-sama dititahkan (diciptakan), itu orang yang tidak berpendirian, sudah menjadi watak orang pemarah, membuang pedoman yang menjadi dasar pedoman tersebut.

  12. Itulah anakku ingatlah, apabila engkau diterima, oleh Sang Jayengpalugon, yang istrinya dua itu, putrinya Karsinah, yang satunya putri Kanjun, janganlah engkau punya pikiran.

  13. Madumu dua orang itu, walaupun sama-sama anak raja, asal besar namaku, dan raja Cina lebih kaya, Parangakik Karsinah, walaupun rangkap kerajaannya, masih lebih kaya ratu Cina.

  14. Budi yang demikian itu anakku, buanglah jangan sampai kau miliki, gunakanlah rasa rendah hati, untuk keselamatan diri, berbuatlah agar dikasihi, budi yang pertama tadi, orang pemarah (sombong) akan berakibat celaka.

  15. Jika bisa engkau mengerti, tidak dapat dibuat jelek, jika berbuat rendah hati, jika madumu mempunyai niat jelek, pasti tidak akan terlaksana, sebab sikapmu yang rendah hati, yang telah bersemayam dalam badanmu.

  16. Namun, jika engkau sombong anakku, lebih-lebih jika “galak”, menjadikan dirimu, merusak badanmu sendiri, kedua madumu itu, ibaratnya “jayeng satru”, keduanya jadi perhatian.

  17. Nasihatnya telah selesai, kepada putra Sang Prabu Cina, sebaiknya kelak menjadi teladan, untuk semua wanita, ini nasihatnya, Sang Prabu di Ternate, Geniyara beralih pada pupuh dhandhanggula.

SERAT WULANG REH PAKU BUANA X BAGIAN I






Pupuh
M I J I L


  1. Ingsun nulis ing layang puniki / atembang pamiyos / awawarah wuruk ing wijile / marang sagung putraningsun estri / tingkahing akrami / suwita ing kakung //.

  2. Nora gampang babo wong alaki / luwih saking abot / kudu weruh ing tata titine / miwah cara-carane wong laki / lan wateke ugi / den awas den emut //

  3. Yen pawestri tan kena mbawani / tumindak sapakon / nadyan sireku putri arane / nora kena ngandelken sireki / yen putreng narpati / temah dadi lu p ut //

  4. Pituture raja Cina dhingin / iya luwih abot / pamuruke marang atmajane / Dewi Adaninggar duk ngunggahi / mring Sang Jayengmurti / angkate winuruk //

  5. Pan wekase banget wanti-wanti / mring putrane wadon / nanging Adaninggar tan  angangge / mulane patine nora becik / pituture yogi / Prabu Cina luhung //

  6. Babo nini sira sun tuturi / prakara kang abot / rong prakara gedhene panggawe / ingkang dhingin parentah narpati / kapindhone laki / padha abotipun //

  7. Yen tiwasa wenang mbilaheni / panggawe kang roro / padha lawan angguguru lire / kang meruhken salameting pati / ratu lawan laki / padha tindakipun //

  8. Wadya bala pan kak ing narpati / wadon khak ing bojo / pan kawasa barang pratikele / asiyasat miwah anatrapi / Sapra- tingkahneki / luput wenang ngukum //.

  9. Sapolahe yen wong amrih becik / den amrih karaos / pon-ponane kapoka ing tembe / nora kena anak lawan rabi / luput ngapureki / tan wande anempuh //.

  10. Amung bala wenang ngapureki / polahe kang awon / beda lawan rabi ing lekase / pan mangkono nini wong ngakrami / apaitan eling / amrih asmareng kung //

TERJEMAHAN

PUPUH
M I J I L

  1. Saya menulis karya ini, dalam bentuk tembang, memberikan petuah dalam bentuk (tembang) mijil, kepada seluruh anak perempuan saya, (tentang) tata krama dalam perkawinan, mengabdi kepada suami.

  2. Tidak mudah orang bersuami, sangat berat, harus tahu aturan, juga harus tahu cara-cara orang bersuami, dan juga watak (lelaki), waspadalah dan ingatlah.

  3. Wanita jangan mendahului kehendak suami, berbuat semaunya (asal perintah) meskipun kamu itu putri, kamu jangan menonjolkan kalau putra raja, akhirnya tidak baik.

  4. Nasihat ratu Cina ini, sangatlah berharga, nasehat yang diajarkan kepada anaknya, Dewi Adaninggar ketika melamar, Sang Jayengmurti, ketika berangkat (dinasihati).

  5. Pesannya dengan bersungguh-sungguh, kepada putra perempuannya, namun Adaninggar tidak mengindahkannya, maka kematiannya tidak baik, ajaran kebaikan, Prabu Cina yang luhur.

  6. Engkau anak perempuanku, saya menasihati, perkara yang berat, dua perkara yang besar, yaitu: yang pertama perintah raja, yang kedua suami, sama beratnya.

  7. Kalau salah dapat berbahaya, dua perbuatan, artinya sama dengan berguru, yang menunjukkan keselamatan, kematian, raja sama dengan lelaki, (sama perbuatannya).

  8. Jika prajurit hak raja, perempuan hak suami, sangat kuat pengaruhnya, siasat maupun tindakannya, dan segala tindakannya, salah bisa dihukum.

  9. Segala tingkah lakunya, jika orang itu menuju kebaikan, supaya dirasakan tujuannya, kalau suami tidak memberi maaf, kelak istri dan anak akan melakukan perbuatan yang tidak baik.

  10. Hanya prajurit yang, bertingkah laku salah, berbeda dengan istri yang tidak bisa dimaafkan, memberi maaf itu keliru,anak istri akan melakukan perbuatan tidak baik, jadi harus eling, dan cinta kasih.