Minggu, 01 Mei 2016

SERAT WEDHATAMA-TRIPRAKARA-PEGANGAN KSATRIA






SERAT WEDHATAMA: “TRIPRAKARA” PEGANGAN KSATRIA 
Namanya pegangan untuk ksatria tetapi jangan dikira bahwa pegangan tersebut adalah ilmu kanuragan untuk berkelahi atau berperang. Bukan “raga” dalam triprakara ini, melainkan “rohani”. Ikhlas, sabar dan berserah diri pada Allah Yang Maha Agung.

Masih terkait dengan “Ilmu” yang disebutkan dalam Pupuh Pucung bait pertama: “Ngelmu iku; Kelakone kanti laku .........” maupun lanjutannya pada bait ke dua: “Angkara gung; Ning angga anggung gumulung yang telah saya tulis dalam  Dur Angkara. Adapun mengenai Tri Prakara lihat  Serat Wedhatama anggitan Sri Mangkunegara IV dalam pupuh Pucung bait ke 10 dan 11.

Pupuh Pucung Bait Ke 10

Basa ngelmu
Mupakate lan panemu
Pasahe lan tapa
Yen satriya tanah Jawi
Kuna kuna kang ginilut tripakara

Terjemahannya kurang lebih sebagai berikut: Mengenai ilmu; Kesepakatan dan pendapatnya adalah; Dapat diperoleh dengan upaya keras (Tapa); Bagi ksatria tanah Jawa; Dahulu yang dijadikan pegangan adalah tiga hal (triprakara)

Penjelasan mengenai “triprakara” dengan kata kunci “Lila, Trima dan Legawa” dapat dibaca pada bait berikutnya, yaitu bait ke 11 sebagai berikut:

Lila lamun
kelangan nora gegetun
Trima yen ketaman
Sakserik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara

Terjemahannya kurang lebih sebagai berikut: (pertama) Ikhlas; bila kehilangan tidak menyesal; (kedua) Menerima, sabar; Bila disakiti sesama manusia; Ketiga, lapang dada dan berserah diri pada Tuhan

Jadi “Triprakara” adalah “laku” untuk memperoleh “ilmu”. Bila saya terjemahkan lebih bebas, maka “Laku Triprakara tersebut adalah:
  1. Kehilangan sesuatu tidak membuat kita sedih
  2. Bila disakiti oleh sesama manusia, kita sabar, menerima dengan lapang dada
  3. Kita harus selalu berserah diri kepada Allah. Semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah dan hanya allah satu-satunya penolong.
Di dunia yang serba “keras” seperti sekarang ini, rasanya amat sulit melaksanakan “Triprakara” tersebut. Baru kehilangan barang kecil teriak kita bisa kedengaran dimana-mana. Baru merasa disakiti, kita sudah melakukan tindakan yang lebih keras. Tentang berserah diri kepada Tuhan, hanya diri masing-masing yang tahu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar