Sabtu, 07 Mei 2016

LONTAR CALONARANG BAGIAN IV









23b. Jika demikian ruwatlah saya Sang Pendeta. Belas kasihan berbesan saya.” Sang Pendeta berkata, “Saya tidak dapat meruwatmu sekarang.” Lalu Sang Calon Arang berkata marah, mukanya merah karena geramnya, akibat ditolak Sang Pendeta. “Itulah tujuan saya berbesan dengan kau. Saya ingin bersih dari mala. Kau menolak meruwat saya. Ya sekaligus biarlah saya akan mati dengan malapatekan dan kehancuran. Singkatnya akan saya sihir Resi Baradah.” Kemudian Calon Arang menari, membalikkan rambut di atas kepala, matanya melirik-lirik, bagaikan mata macan yang hendak menerkam orang. Kedua tangan menuding Sang Pendeta. “Matilah engkau sekarang olehku Pendeta Baradah, barangkali engkau tidak mengenal besan. Ini pohon beringin besar, hendak saya sihir. Lihat olehmu Mpu Baradah.” Segera hancur pohon beringin
24a. besar itu sampai akar-akarnya, akibat tatapan mata yang sangat sakti Calon Arang. Lalu Sang Mahamuni Baradah berkata, “Hai, Besan, keluarkan lagi sihirmu yang lebih sakti, masa saya heran.” Lalu olehnya dipercepat menyihir. Keluar api menyala berkobar-kobar, bagaikan bunyi guntur membakar semua tumbuhan, keluar dari mata, hidung, telinga dan mulut. (Api) menyala berkobar membakar badan Sang Pendeta. Tidak terganggulah Sang Pendeta, beliau enak olehnya memegang kehidupan di seluruh dunia. Sang Pendeta berkata, “Saya tidak mati kau sihir, Besan. Aku ambil nyawamu, semoga kamu mati di tempatmy berdiri itu.” Setelah itu Sang Pendeta mengenakanastacapala. Sang Calon Arang mati seketika, di tempat berdirinya itu juga. Mpu Baradah menjadi berpikir dalam hati. “Aduh, saya belum memberitahukan
24b. jalan kebebasan kepada Besan. Semogalah kau besan hidup seperti semula lagi.” Calon Arang hidup kembali. Kemudian Calon Arang marah mencaci maki. Ucapnya, “Saya telah mati, mengapa saya kau hidupkan kembali?” Sang Pendeta menjawab dengan tenang, “Hai Besan, tujuan saya menghidupkan engkau kembali, saya belum memberitahukan kelepasanmu serta menunjukkan jalan sorgamu dan menghapuskan nodamu itu, termasuk engkau belum mengetahui kesempurnaan ilmu.” Berkatalah Calon Arang, “Aduhai, itulah yang dimaksud sekarang. Nah, Syukurlah apabila ada belas kasih sayang Sang Pendeta kepada saya untuk melepaskan hamba dari dosa. Saya (hendak) menyembah di kaki Sang Pendeta sekarang, yang dengan perlahat-lahan hendak meruwat saya.” Lalu Calon Arang menyembah kepada kaki Sang Pendeta. Maka ditunjukkan kelepasannya, dan akan ditunjukkan jalan ke surga, serta seluk beluk kehidupan.
25a. Setelah ia diberitahukan seluk beluk kematian oleh Sang Sri Yogiswara Baradah, senang, enak, lega, bebas, dan lepas hati Sang Calon Arang, tidak cenderung (berbuat) caranya semula, hanya nasihat Sang Pendeta yang dipegangnya. Nasihat utama telah didengarkan semua dan diresapi olehnya. Lalu Sang Calon Arang minta diri, menyembah dengan hormat pada telapak kaki Sang Pendeta. Sang Pendeta berkata, “Nah, pergi lepas kamu kembali semula telah diruwat Besan.” Demikianlah, akhirnya Calon Arang mati, berhasil diruwat, ia menghilang juga. Lalu mayat Calon Arang dibakar oleh Sang Pendeta, telah lebur menjadi abu tidak tersisa. Tidak disebutkan lagi. Kini Si Weksirsa dan Mahisawadana sama mendapatkan didikan (brahmana), minta dijadikan wiku oleh Sang Pendeta. Apakah sebabnya demikian? Sebab tidak mampu turut diruwat
25b. bersama janda di Girah. Mereka berdua dijakan wiku oleh Sang Pendeta. Tidak disebutkan Calon Arang. Sang Pendeta ingin pergi ke Girah mengunjungi Mpu Bahula, hendak memberitahukan bahwa Calon Arang telah meninggal. Sang Pendeta segera datang ke Girah, masuk ke kabuyutan orang Girah. Orang memberitahu Mpu Bahula, bahwa Sang Pendeta datang. Mpu Bahula segera menyongsong (kepada) Sang Pendeta, menghormat dan menyembah di telapak kaki Sang Pendeta, debu yang ada di kaki Sang Pendeta yang bebas dari nafsu, dijilati dijadikan sumber penghidupan dan ditempatkan di ubun-ubun oleh Mpu Bahula. Sang Pendeta berkata, “Hai Mpu Bahula, sya memberitahukan kepadamu, besanku Calon Arang telah meninggal. Sempurna lenyap teruwat dari mala olehku. Sekarang begini kehendak saya, pergilah engkau ke kerajaan, agar memberitahukan kepada Sang Raja bahwa Calon Arang telah mati. Si Weksirsa
26a. dan Mahisawadana telah menerima ajaran yang baik dan pengawasan Pendeta. Keduanya akan mengabdi padaku. Beritahukanlah bahwa saya ada di sini.” Segera minta pamit menghormatlah Mpu Bahula di hadapan Sang Pendeta. Pergilah dia ke kerajaan. Tidak diceritakan perjalanan Mpu Bahula, segera datanglah dia di kerajaan. Dijumpainya Sang Raja sedang di penghadapan, tenang di tempat persidangan, (dihadiri) Para Adipati, Patih Amangkubumi, Resi, Bujangga Siwa, dan Brahmana. Tidak terkira jumlahnya (dari) para satria utama. Seluruh upacara sama indah dilihat, disertai tempayan logam dan keris, dan bermacam-macam pandan. Setelah datang Mpu Bahula bagaikan menerangi (Sang Pendeta) di Manguntur. Orang-orang serentak tercengang di tempat pertemuan. Segera menghadap dekat, Mpu Bahula berkata. Ucapnya, “Tuanku penguasa dunia, Mpu Bahula memberitahukan kepada Tuanku, Calon Arang sudah mati oelh
26b. Sang Pendeta. Si Weksirsa dan Mahisawadana telah menerima pengakuan suci Sang Pendeta, bersama-sama mohon dan menjunjung Tuan Hamba Sang Pendeta. Sang Pendeta sekarang ada di Girah.” Sang Raja bersabda, “Hai, bahagialah jika seperti pemberitahuanmu Mpu Bahula. Aku menjadi senang sesuai dengan ucapmu apabila Sang Pendeta berada di Girah. Hai, Patih Darmamurti, siagakan keretamu dan gajah. Saya akan bersiap-siap mendatangi Sang Pendeta disertai permaisuri ikut ke Girah.” Orang-orang seluruh kerajaan berbondong-bondong, berdengung dan bergemuruh suara bunyi-bunyian, gong nyanyian, curing bersamaan tanpa didengarkan. Ringkik kuda, kibaran bendera, hentakan kaki orang berjalan bagaikan belah dunia. Jalannya
27a. prajurit sesak berdesakan memenuhi jalan tanpa henti-hentinya bagaikan laron keluar dari sarangnya. Tidak diceritakan perjalanan Sang Raja di jalan, dengan semua upacara peninjauan. Samar-samar memakai perisai bersama temannya. Ada yang naik kereta, yang lain tanpa dirasakan berjalan kaki, yang lainnya bersenda gurau, perbuatannya hiruk pikuk. Sang Raja segera tiba di Girah. Tidak diceritakah orang-orang yang menyaksikan. Ada yang menonton, ada tanpa pakaian, dan rambut terurai. Ada yang kehilangan kain tidak diperhatikan karena besar keinginannya hendak melihat. Ada lagi yang berlari jatuh ke tanah. Akhirnya langsung datang di tempat Sang Pendeta Baradah di kabuyutan orang-orang Girah. Setelah datang Maharaja Erlangga ke sana, Sang Pendeta menyambut hormat kepada Sang Raja. Katanya, “Om-om Tuanku Paduka Raja, bahagialah apabila mengunjungi hamba. Segeralah Sang Raja menyucikan orang-orang yang sakit.
27b. Nah, silakan duduk bersama di sini Sang Penguasa Negara! Saya akan menceritakan tentang kematian Sang Calon Arang. Si Weksirsa dan Mahisawadana (mereka) telah menerima ajaran yang baik, ikut membebaskan diri dengan saya”. Sang Raja berkata, “Bahagialah saya, apabila Calon Arang mati. Sangat senang hati saya. Telah hilanglah sekarang noda dunia, yang membuat kekotoran seluruh dunia dan ketakutan dunia. Dapat dikatakan bagaikan tanaman merambat, gulma, dan benalu, pada bulan ketiga, debu berterbangan oleh putaran angin berkisaran, kering daunnya jatuh runtuh ke bumi, minta hujan tidak ada. Begitulah persamaannya dengan negara, telah rusak tidak tahu menumbuhkannya. Negara tidak bersinar oleh perbuatan Calon Arang, minta-minta hidup tidak ada. Sekarang setelah Sang Pendeta terhormat datang di Girah di sini, bagaikan tanaman merambat mengharapkan datangnya bulan Kartika (Oktober-November), oleh karena Tuan hamba seperti meneteskan air suci Gangga, (dan) air penghidupan. Tidak akan disangka hidup kembali
28a. kerajaan oleh Sang Pendeta. Sekarang begini Tuanku, berapakah hutang saya kepada Tuan Hamba Pendeta yang terhormat, besar tidak dapat dipeluk, panjang tidak dapat diukur dengan depa. Tidak dapat saya jawab, tetapi saya akan membalas sedapat-dapatnya nanti kepada Sang Pendeta terhormat, karena tidak terhitung besar hutang saya.” Berkatalah Sang Pendeta, “Hai, tanpa alasan ucapan Sang Raja yang demikian. Saya belum membersihkan muntah Calon Arang. Setelah dia mati saya ingin membuat upacara pembersihan lagi. “Setan Banaspati” kotor Calon Arang, akan dicandikan di Girah dan disucikannya, supaya dipuja orang-orang Girah, disebutlah Rabut Girah. Tidak ada yang hendak merusak lagi, kerajaan itu hingga daerah pinggiran, sebab Rabut Girah sudah aman.” Sang Raja menyetujui hal itu, atas perintah Sang Pendeta.
28b. Sang Pendeta berkata lagi, “Hai, Sang Raja silahkan pulang saja dahulu ke kerajaan. Saya sedang membersihkan mala yang dibuat Calon Arang. Apabila saya telah selesai membersihkan Rabut Girah ini, saya datang ke pusat kerajaan,mengikuti Sang Raja.” Raja Erlanggya berkata, “Hai, sesuai dengan ucapan begitu, sekaranglah Tuan menyelesaikan.” Kata Sang Pendeta, “Apabila ada berat ringan, sekaranglah cucu Tuanku Sang Pendeta ingin pamit, akan pulang dahulu ke kerajaan cucu Tuanku. Pun Kanuruhan biarlah tinggal di sini untuk mengiringkan Sang Pendeta pergi ke istana kerajaan.” Kemudian Sang Raja pulang segera, diikuti oleh pasukannya. Beliau tidak diceritakan dalam perjalanan, segera sampai di keraton. Diceritakan Sang Pendeta Baradah ada di Girah menyucikan mala Calon Arang, (atas) biaya dari Sang Raja. Ken Kanuruhan membantu pekerjaan Sang Pendeta, lengkap dengan saji-sajian.
29a. Setelah selesai membersihkan mala, jadilah dinamai Rabut Girah, menjadi tempa suci orang-orang Girah sampai sekarang. Dipuja dan dihormatinya. Sang Pendeta mengakhiri pekerjaannya. Segera pergilah beliau naik kereta tandu. Ken Kanuruhan naik kuda akan mengikuti perjalanan Sang Pendeta menuju ke kerajaan. Tidak ketinggalah Mpu Bahula menunggang kuda merah. Tidak diceritakan beliau di jalan, segera sampai di kerajaan. Sang Raja ingat bahwa Sang Pendeta datang. Sang Raja Erlangga segera keluar dari istana, menjemput Sang Pendeta Baradah, sampai di luar kota di alun-alun. Ribut oleh suara musik, gong, alat musik pereret bersama-sama. Demikianlah Sang Pendeta diperlakukan oleh Sang Raja. Sang Raja segera turun dari kendaraan, lalu akan menyerta Sang Pendeta menuju keraton. Kemudian dipersilahkan duduk Sang
29b. Resi di balai gading. Adapun Sang Raja duduk di balai samping. Lalu Sang Raja berkata, memberitahukan kepada Sang Pendeta, “Tuanku, segala ucapan Raja Erlangga, hendaklah diterima di hadapan Tuan Sang Pendeta. Sekarang ini kerajaan telah aman oleh Sang Pendeta. Sekarang keinginan cucu Tuanku ingin mengikuti Pendeta yang mulia, minta belas kasih Sang Pendeta. Akan turut mempelajari Sang Hyang Dharma, minta menerima ajaran yang baik seorang pendeta menlepaskan pikiran hina, memahami ajaran hukum. Pikiran jahat, perbuatan zina larangan dunia, rakus, hilang kesadaran, loba, hilang kontrol diri, creyan, cinta yang besar, sedih, berteman, bijaksana pikiran kuat oleh cucu Tuanku. Setelah menjadi raja berkuasa, senang memberi anugerah berlebih-lebihan dalam lahir, kaya segalanya serba banyak. Tidak disebutkan permata kemuliaan kerajaan, ada di dalam keraton. Adapun keinginan saya sekarang hendak mengetahui seluk beluk berguru, agar merasakan
30a. Sang Hyang Dharma. Mengetahui jalan kematian dan yang dituju. Mengetahui isi surga dan neraka, keluar masuknya dunia besar dan dunia kecil. Mengetahui jalan utama, jalan lurus, dan cabang-cabangnya, yang patut diketahui oleh (orang) yang telah sempurna, dan dijumpai oleh orang yang berjalan di sana.” Demikian ucapan Maharaja Erlangga kepada Sang Pendeta. Sang Pendeta Baradah pun berkata, “Aduh ucapan Sang Raja sangat baik, sangat benar sesuai dengan dunia apabila demikian. Anda hendaklah memegang teguh Sang Hyang Dharma dan mengubah budi jahat. Tidak sedikit nyata benar permata kerajaan.” Sang Raja berkata lagi, menanyakan pembayaran upacara. “Tuanku, berapakah besar pembayaran upacara itu, yang harus diserahkan kepada Tuan? Adapun perak, beritahukan juga kepada saya, tentang nista madia dan utama pembayaran upacara itu.” Sang Pendeta berkata, “Wahai, kalau demikian permintaan Sang Raja, masalah besarnya bantuan biaya itu, walaupun tanpa biaya,
30b. apabila sungguh-sungguh memelihara kelangsungan pendidikan, sama pula dengan besarnya biaya. Dalam hal biaya apabila tidak kuat dan sungguh-sungguh terhadap Sang Guru, sama dengan tanpa biaya, tidak ternilai kesungguhan itu seperti akan mengantarkan dari tempat ini. Saya memberitahukan tentang biaya dan bermacam-macam biaya itu sekarang. Yang disebut perak sedunia, itulah pembuka kata namanya. Yang disebutbaturing sasari, yang terkecil 1600. Yang menengah 4000, yang utama 8000, yang paling utama 80.000. Itulah besar kecil upah. Kendati demikian jika tidak bersungguh-sungguh dalam berguru, sama dengan tanpa pembayaran. Sungguh-sungguh dan teguh itu menjadi upah juga. Berat dan tidak berat (ringan), sulit, tidak ada hujan dan panas, apabila diutus oleh guru dilaksanakan juga. Tidak pantas membantah perintah, itu sebagai upah. (Disebut) utama apabila besar upah, juga (orang) bersungguh-sungguh, lagipula tidak membantah perintah. Amat utama jika ada orang seperti

31a. demikian. Demikian pula sang Raja, apabila rencana membuat tapa, menurut keinginan Sang Raja dalam menentukan upah. Saya tidak berhak memastikan itu.” Berkatalah Sang Sri Raja, “Delapan ribu itu Tuanku, dijalankan oleh anak Tuan, akan diserahkan kepada Sang Pendeta.” Sang Pendeta berkata, “Ya, saya akan menerima ucapan Sang Raja. Saya akan memberitahukan sifat bunga-bunga, tidak ada beringin yang tidak sakti pohonnya, sirih 27 dan kapur, ditempatkan pada mangkuk berlalpis emas. Puncaknya batu permata mirah, bunga-bungaan uraiannya emas dan perak bersinar lembut. Itu ditempa dengan tipis dan gunting, biji mirah seadanya. Adapun Tuanku (sangat) tersesat dalam bertapa, di mana pun Anda datang akhirnya mulainya bumi, serta dipuja-puja oleh seluruh dunia. Sejak dahulu orang-orang di pulau lain berbakti, menghormat kepada Anda.” Sang Raja membenarkan, ucapan Sang Pendeta. Beliau segera mengutus (untuk) mempersiapkan bunga, bunga urai, dan biji tabur, sebagai persiapan awal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar