Sabtu, 07 Mei 2016

LONTAR CALONARANG BAGIAN V








31b. Segalanya telah siap sedia, tidak ada yang kurang, berisi permata dari gunung terutama hiasan istana itu telah disiapkan. Sangat indah itu. Sang Raja telah menyucikan diri, berdua dengan permaisurinya. Sajian telah disiapkan lengkap, sangat mempesonakan dilihat. Maharaja Erlangga mendekat kepada Sang Pendeta Baradah, (di sana) di tempat penyambutan. Bukan main pesonanya, asap mengepul berbau harum dan pendupaan menyala, memenuhi seluruh bumi, tersebar hing di angkasa. Golongan resi di langit segera (melihat) pendupaan mengepul tebal, semua menonton dari angkasa, bagaikan memuji perbuatan Sang Raja Erlangga, seperti ikut hadir memberi restu peristiwanya. Bunyi-bunyian ramai, termasuk alat musik instrumen tiup, gong, dan gendang berbynya bersamaan. Pereret, alat musik angin, gendang, gong serentak
32a. berbunyi riuh. Sang Pendeta berkata, “Silahkan datang ke mari Paduka Raja. Sekarang ini saya belum melakukan upacara sěděpterhadapmu, saya minata duduk di sana juga. Saya (membuat) upacara sěděp untuk Anda dengan gelar Jatiningrat.” Sang Raja bersama permaisuri menghormat kepada Sang Pendeta Baradah. Dipindahkan bunga-bunga di dalam mangkuk, didasari emas, bunga itu digetarkan tiga kali. Segera diupacarai sang Raja bersama istrinya oleh Sang Pendeta. Selesai upacara, beliau diajarkan tentang Sang Hyang Dharma, mengenai kelahiran dan rasa ketidakjadian serta akhir segala yang ada, baik kecil maupun besar (di dunia). Semua telah diajarkan olehnya. Itu diberitahukan secara rahasia pengetahuan menuju jalan kebenaran, akan membuat perjalanan selamat, dijalaninya, yang bertapa di kerajaan, menjadi pertapa di hutan dan gunung. Lagi pula tata cara catur asrama diberitahukannya, seperti :Agrahastana, Awanapastra, Abiksukana, dan
32b. Brahmacarina. Artinya : Agrahastana artinya “Pendeta yang beristri beranak dan bercucu.” Wanapastra artinya “bertempat tinggal di tengah hutan lebat,” wana artinya “hutan”, patraartinya “daun-daunan”, dan “rumput.” Berhenti makan apabila tidak dapat memetik rumput dan daun (di sana) di pertapanya. Baik hidup maupun mati tidak berpindah dari tempat itu.Biksuka artinya “pendeta yang sejahtera,” berwenang membunuh, berwenang memiliki hamba sahaya secukupnya, beristri dan berhubungan seksual, tidak akan dihukum oleh Sang Raja, sebab telah pada tempatnya demikian. Brahmacariyanamanya itu Catur Beda, yaitu Suklabramacari, tan trěsnabrahmacari, swalabramacari, dan bramacari těměn.Yang disebut Suklabramacari adalah orang (yang) bertapa, belum mengetahui rasa nasi dan daging, rasa hubungan suami
33a. istri belum tahu. Menjadi pertapa terus dari kecil, itu namanyasukla bramacarya. Yang disebut tan trěsnabrahmacarimemiliki budi pikiran (tidak) bohong merusakkan dharma, yaitu mendapatkan ajaran mulia, dan merasakan makna sepatah atau dua patah kata, lalu merasa banyak olehnya. Akhirnya, meninggalkan asalnya, anak, dan istrinya tanpa alasan, lalu belajar. Itu namanya tan trěsnabrahmacari. Swalabramacari itu namanya, ialah terjadi perselisihan dengan istrinya, menimbulkan rasa malu, lebih-lebih jika disuruh berperang oleh Tuannya. Dia tidak berhasil malu, lalu bertapa. Bramacari těměn itu namanya, setiap pendeta yang nyata tahu rasa semua dan mengetahui seluk beluk alam semesta. Tempatnya, (seperti) jika telah sempurna mantera. Habis dharma semua, yaitubramacari těměn namanya. Itu catur asrama namanya. Kedudukan Sang Pendeta
33b. masing-masing. Ingatlah itu jangan lupa (dengan) kamu, anakku Sang Raja, tapamu di istana. Janganlah tidak mengikuti prilaku masa lalu, jangan ada yang mengurangi dan menambah warna putih dunia. Yang ada pada waktu dahulu hendaklah ada pada waktu sekarang, yang tidak ada pada waktu dahulu hendaklah tidak ada pada waktu sekarang. Yan gmendalam dijumpai juga olehmu memandang, turuti (lah) olehmu. Janganlah engkau tidak perhatikan rakyatmu itu. Ada yang disebut Dewasasana, Rajasasana, Rajaniti, Rajakapa-kapa, Manusasana, Siwasasana, Rěsisasana dan Adigama. Itulah hendaknya agar senang hati olehmu, enaklah dinikmati di dunia menyakrawati, bukan saja di pulau Jawa di sini, tetapi juga termasuk berkuasa di Nusantara. Senang pikiran seluruh dunia olehmu, sebab engkau telah mempunyai watak Sang Hyang Dharma, mengetahui rahasia hidup dan mati, telah mengetahui surga dan neraka.
34a. Waspada dengan keberhasilanmu. Kamu tahu seluk-beluk dunia dan tata tertib dunia. Tidak ada yang patut dikhawatirkan di dunia, ingatlah pemberitahuanku, Sang Raja, jangan lupa.” Berkatalah Sang Raja kepada Sang Pendeta, “Mohon pamit putra Tuan Hamba Sang Pendeta atas nasihat Sang Pendeta.” Habis ajaran yang diberikan oleh Sang Pendeta, sangat sayang Sang Pendeta terhadap putra Sang Pendeta. Terang benderang rasa pikiran putra Sang Pendeta begitu diterangi pleh ucapan Sang Pendeta budiman. Setelah itu bubar upacara Sang Raja. Ia yang dipuja oleh orang-orang di seluruh pertapaan. Mereka diberi makanan. Tidak ada kekurangannya, berbagai isi lautan dan gunung ada di sana. Sang Raja bersama istri menghadap beliau, tidak disebutkan macam perintah yang berupa larangan, dan temannya menjadi pandu. Semua
34b. turut bersama menghadap di sana. Senang tertawa-tawa, mereka bercerita panjang lebar. Setelah malam mereka menginap di balai-balai, di tempat bermalam Sang Pendeta. Keesokan hari beliau minta pamit kepada putranya. Berkatalah beliau Sang Pendeta kepada Sang Raja, “Ayah ingin pamit anakku, Sang Raja. Saya akan pulang ke asrama.” Berkatalah Sang Raja, ”Tuanku yang mulia, orang tua raja pulang ke asrama, sekarang putra Sang Pendeta akan memberi upah kepada Sang Pendeta.” Sang Raja berkata meneruskan, hendak mengutus Apatih dan Ken Kanuruhan, agar mengiringi Sang Pendeta yang akan pulang ke asramanya. Semuanya menyiapkan kereta gajah dan kuda diberikanlah kepada sang Pendeta oleh Sang Raja, dan uang 50.000, 50 perangkat pakaian, emas dan permata serba banyak, juga pengikut pekerja sawah seratus orang, pemahat seratus orang, kerbau dan sapi, pekerja
35a. banyak, akan diserahkan kepada Sang Pendeta. Sang Pendeta berkata, “Saya terima pemberian Anda, Sang Raja. Ada lagi pesan saya kepada Anda, janganlah tidak belas kasihan kepada yang kasihan, terutama kepada segenap Pendeta yang hina, janganlah Anda tidak memuliakan.” Sang Raja menghormat kepada Sang Pendeta, lalu mengusap debu kaki Sang Pendeta Baradah, diletakkan di ubun-ubun Sang Raja, berdua dengan permaisurinya. Sang Pendeta berkata lagi, :Ya, tinggallah putraku semoga Anda selamat, janganlah tidak ingat akan semua nasihat saya. Siang dan malam hendaklah diperhatikan.” Sang Pendeta segera pergi. Dia mengendarai kereta diiringi oleh Rakryan Apatih, Kanuruhan, dan Tumenggung. Tidak diceritakan beliau di jalan, cepatlah perjalanan Sang Pendeta. Tidak diceritakan petani-petani yang dilewatinya, semua heran terhadap Sang Pendeta, karena beliau sangat sakti, tidak ada
35b. bandingannya. Beliau segera datang di asrama Semasana. Ken Apatih segera pamit menghormat kepada beliau, juga Kanuruhan dan Tumenggung. Mereka (bersama) kembali ke kerajaan. Tidak diceritakan Ken Apatih, Ken Kanuruhan dan Tumenggung. Mereka telah pergi dari asrama. Diceritakan Sang Pendeta, beliau disongsong oleh putrinya, bernama Wedawati. Beliau dijemput di pintu gerbang, sama senang perasaan Sang Pendeta dan putrinya. Segera bersama masuk ke dalam asrama. Tidak diceritakan Sang Pendeta, telah ada di asramanya. Diceritakan tingkah laku beliau Sri Raja, ketika ada di kerajaannya. Senang, sejahtera dan bahagia hatinya. Enaklah seluruh dunia ketika masa pemerintahannya, karena kesusahan tidak ada. Adapun jalan dibuka di tempat yang tertutup sulit didatangi, di tempat penyamun, dan di tempat perampokan. (Di situ) ditempatkan orang-orang dan dijadikan desa. Jalan-jalan menuju tegalan, hutannya memanjang kejauhan dari utara ke selatan, barat dan timur, menyebabkan orang-orang
36a. melewati jalan. Di tempat itu disuruhnya menanami beringin dan pohon bodhi, ambulu (Ficus infectoria), dijajar-jajarkannya, sehingga teduhlah tempat-tempat orang lewat. Tidak diceritakan orang-orang Nusantara, semua percaya mengabdi kepada Sang Raja. (Daerah) seberang, Malayu, Palembang, Jambi, Malaka, Singapura, Patani (daerah di Semenanjung Malaka), Pahang (daerah di Semenanjung Malaka), Siyam, Cempa (daerah di Kamboja), Cina, Koci (daerah di Vietnam), Keling (daerah di Selat Malaka), Tatar (bangsa Tatar di Cina), Pego (daerah di Birma), sampah Kedah (daerah di Semenanjung Melayu), Kutawaringin (di Kalimantan), Kate (Kutai), Bangka, Sunda, Madura, dan Kangayan (pulau Kangayan). Makasar (daerah di Sulawesi), Seram (di Maluku), Goran (di Maluku), Pandan, Peleke, Moloko (Maluku), Bolo (Pulau Buru atau kerajaan Telo di Sulawesi), Dompo (Dompu), Bima (di Sumbawa), Timur (Timor), Sasak (Lombok), dam Sambawa (Sumbawa). Sekian jumlah Nusantara itu yang menyerahkan upeti kepada Sang Raja. Beliau yang bernama Jatiningrat dan Maharaja Erlangga nama nobatnya. Adapun para Brahmana, Buhjangga, beliau para Rsi, semua menduduki tempatnya masing-masing, ada di kerajaan dan ada di asramanya. Senanglah semuanya
36b. sampai para petani. Tidak henti-hentinya turun hujan, berhasil panennya, murahlah segala yang dimakan. Rakyatnya semua tertib mengikuti tata cara lama. Adapun putra beliau dua orang, sama muda dan tampan rupanya. Beliaulah yang akan diangkat menjadi raja, tetapai Sang Raja sedang bingung mengenai tempat pengangkatannya. Seorang (ingin) akan diangkat (raja) di Nusantara seorang, yan gsatu lagi diangkat raja di Pulau Jawa. Sang Raja sedang khawatir pikirannya. Apa sebabnya begitu? Sebab putranya itu masih muda tidak tahu memerintah negara. Jika kurang dana, akhirnya tidak memiliki rakyat di kemudian hari. Itulah sebabnya tidak diberikan akan memerintah jauh. Namun, maksud Sang Rja, hendak mengangkat raja di Bali seorang dan di Jawa seorang, sebab di Bali dekat sama seperti masih di Pulau Jawa. Lalu Sang Raja keluar dihadap oleh rakyat banyak diam membungkam. Sang Raja segera berkata, memberitahukan hal (kepada) para mentrinya semua. Di sana Patih,
37a. Kanuruhan dan para menterinya, termasuk pula para Brahmana, Buhjangga, dan Rsi. Sang Raja berkata, “Keinginan saya, Patih, sekalian para Menteri saya (semua), serta Kanuruhan semua. Ada beliau Brahmana, Buhjangga dan Rsi. Saya akan mengangkat raja putra saya, di Bali seorang dan di Jawa seorang. Bagaimanakah menurut perasaan kalian? Saya juga akan menyuruh datang menuju Semasana di Buh Citra, minta pertimbangan Tuan Hamba Sang Pendeta, nasihat suci untuk saya.” Ken Apatih dan para Menteri berkata, terutama Sang Mahawidja, semua setuju dan menurut, jika memberitahukan kepada Sang Pendeta. Sang Raja berkata lagi, akan mengutus Kanuruhan pergi ke asrama. Ken Kanuruhan minta diri dan menyembah di hadapan Sang Raja. Segera berjalan, Ken Kanuruhan naik di kereta.
37b. Lepaslah perjalanan Kanuruhan, diikuti oleh pengiringnya. Dia segera datang di asrama. Turunlah Ken Kanuruhan dari kereta, masuk ke dalam gapura, bertemu dengan Sang Pendeta yang sedang dihadap oleh muridnya semua. Dia menyapa Ken Kanuruhan, “Om-om, Ken Kanuruhan, bahagia kamu. Apakah tujuan menghadapku datang ke asrama?” Ken Kanuruhan berkata, “Ken Kanuruhan diutus oleh putra Tuan Hamba, disuruh agar menanyakan kepada Sang Pendeta, oleh karena putra anak Tuanku, Tuan Hamba yang dua orang itu, akan diangkat raja di Bali seorang, raja di Jawa seorang. Demikian pertanyaan anak Tuan Hamba ke hadapan Sang Pendeta. Nasihat Sang Pendeta akan dituruti oleh anak Sang Pendetea.” Berkatalah Sang Bijaksana, “Jika benar demikian keinginan
38a. Sang Raja, tidak dapatlah jika demikian, sebab di Bali itu, sungguh tidak ada raja memerintah sekarang, tetapi ada beliau Sang Pendeta, tinggal di sana di asrama Desa Silayukti. (Dia) sesungguhnya lebih tua dari saya. Beliau sangat sakti, luar biasa tidak ada bandingannya. Itulah yang barangkali beliau tidak suka, sebab tidak terhingga saktinya. Sang Pendeta Kuturan namanya. Saya akan datang ke Bali terlebih dahulu, akan mendatangi Sang Pendeta di Sukti, meminta anugrah Sang Pendeta. Kamu Ken Kanuruhan pulanglah ke kerajaan, beritahukanlah kepada Sang Raja semua perkataan saya denganmu. Apabila saya datang dari Bali, saya akan menuju ke kerajaan untuk menghadap putraku, akan memberitahukan hasil perjalanan saya datang dari Bali.” Ken Kanuruhan minta pamit menyembah di kaki Sang Pendeta. Pulanglah dia ke kerajaan. Berangkatlah ia dari

38b. asrama. Tidak diceritakan di jalan. Ia segera datang di kerajaan, hendak memberitahukan kepada Sang Raja semua pesan Sang Pendeta. Tidak diceritakan Sang Kanuruhan, telah melaporkan kepada Sang Raja. Berkatalah Sang Pendeta Baradah memberikan perintah kepada putrinya bernama Wedawati, “E, putriku Wedawati, janganlah kamu tergesa-gesa moksa dahulu sampai saya datang dari Bali, lagi pula pekerjaan saya belum selesa, kelak engkau bersama saya.” Putrinya menyetujui (akan) ucapan Sang Pendeta. Lalu Sang Pendeta Baradah berangkat menuju Bali, tujuannya datang di Asrama Sukti. Adapun desa-desa yang dilewati dari asrama di Semasana Lemah Tulis, yaitu di Watulambi, di Sangkan, Banasara, di Japana, Pandawan, Bubur Mirah, melewati Desa Campaluk, Kandikawari, di Kuti dan Koti. DI sana beliau bermalam semalam. Esok hari beliau berjalan lagi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar