Sabtu, 07 Mei 2016

LONTAR CALONARANG BAGIAN III







15b. Demikianlah pesan yang diberikan oleh Pendeta di Buh Citra. Jika diminta uang maharnya, berapa pun permintaan Sang Calon Arang, hendaklah dipenuhi saja oleh Tuanku Raja. Jika mereka telah sehati Mpu Bahula dengan Ratna Manggali nanti, pada waktu itulah Sang Pendeta hendak mengunjungi Mpu Bahula”. Sang Raja lalu berkata, “Saya menyetujui ucapmu Kanuruhan. Baiklah engkau antarkan Mpu Bahula ke Girah, disertai oleh kawan-kawanmu Kanuruhan!” Tidak diceritakan mereka di perjalanan. Ia segera tiba di Girah. Mereka masuk di perkarangan rumah Calon Arang. Mpu Bahula duduk di kursi tamu di sana. Tiba-tiba keluarlah
16a. Calon Arang. Segera menyambut tamu itu dan menyapanya. Ucapnya, “Om-om, bahagia engkau anak laki-laki, yang menjadi tamuku. Dari manakah asal Anda? Lagi pula hendak ke manakah Anda? Wajah penampilanmu sangat tampan seperti bukanlah keturunan orang hina. Saya bertanya kepada tamu ini (karena) tidak mengenalnya.” Mpu Bahula turun dari tempat duduk dan melepaskan ujung kain bawah. Lalu katanya perlahan, “Sungguh-sungguh Paduka sangat bijaksana dalam sastra dan agama, bagaikan meneteskan gula madu dari mulut Paduka. Semogalah tidak salah penerimaan yang Anda berikan yang membahagiakan diri hamba. Baiklah saya berterima kasih kepada Anda yang membahagiakan diri hamba, kepada Tuanku.” Janda Girah berkata, “Baiklah anak laki-laki marilah kita duduk di rumah dahulu.” Mpu Bahula duduk bersama Sang Calon Arang. Berkatalah
16b. Mpu Bahula, “Saya hendak mohon perkenan Tuan rumah, minta agar memberikan belas kasih kepada hamba. Tujuan hamba hendak melamar putri Tuanku, bernama Ratna Manggali. Barangkali saya tidak mengetahui isi hati Tuanku. Tentang tempat asal hamba, hamba bujangga dari Gangga Citra, anak Maha Pendeta di Lemah Tulis. Saya bernama Mpu Bahula. San Pendeta menyuruh supaya melamar putri Tuanku, Si Ratna Manggali. Tidaklah salah Tuanku berbesan dengan Sang Pendeta.” Randa diam, lalu berpikir di dalam hati. Dia sangat senang bermenantukan Mpu Bahula,, lebih lagi mempunyai besan Sang Pendeta, sangat senang rasa hati Calon Arang. Kemudian dia berkata, “Mengapa saya tidak senang, apabila Mpu Bahula hendak melamar anakku, seperti perintah Sang Pendeta?
17a. Namun, janganlah tidak sungguh-sungguh kamu dengan Ratna Manggali.” Mpu Bahula berkata, “Mengapa saya tidak akan bersungguh-sungguh dengan Manggali? Pun Bahula, hanya dengan surat (lamaran). Menuruti ucapan Tuanku mengenai uang maharnya, sepermintaan Tuanku. Saya akan datang menyediakannya.” Calon Arang berkata, “Hai, laki-laki, bukan tujuan besarnya mahar. Jika kau mau bersungguh-sungguh saja sesuai dengan harapanku, berapa pemberianmu kami terima.” Inilah yang diserahkan oleh Mpu (Bahula) : sirih tanda pertunangan, perak hadiah perkawinan, selendang, permata ratna mutu manikam yang bersinar. Lalu diterima oleh Calon Arang (saja) pemberian Mpu Bahula. Panjang apabila diceritakan. Tidak disebutkan siang dan malam, berhasillah dipertemukan Mpu Bahula dengan Ratna Manggali. Bahagia perkawinannya saling mencintai, mesra bagaikan dewa dan dewi siang dan malam. Tidak disebutkan Mpu Bahula.
17b. Diceritakan Calon Arang jika menjelang malam hari mengambillipyakara. Setelah pustaka itu diambil, ia segera pergi menuju ke kuburan. Kembalinya dari kuburan itu, sekitar tengah malam. Demikianlah beliau terus menerus. Mpu Bahula berkata kepada Sang Manggali, “Dinda, adikku tercinta, mengapakah ibu selalu pergi pada malam hari? Saya khawatir Dinda. Keinginan saya hendak mengikutinya, hidup atau pun mati saya akan bersama dengan ibu. Beritahulah yang sesungguhnya, Adikku! Apakah sebenarnya pekerjaan ibu, Dinda! Jika beliau sedang demikian, saya amat khawatir.” Lalu Ratna Manggali berkata kepada suami, “Kakakku akan saya katakan kepadamu, yang sebenarnya saja. Janganlah kakak mengikutinya berbuat seperti itu, sebab beliau pergi ke kuburan,
18a. akan menjalankan sihir, yang menyebabkan kerajaan hancur. Itulah yang menyebabkan banyak orang mati, mayat memenuhi tegal dan kuburan, banyak rumah yang kosong. Begitulah tujuan ibu.” Mpu Bahula berkata istrinya, “Adikku permata hati yang saya cintai, yang menjadi permata dunia. Kakakmu ingin tahu dan melihat anugerah itu, yang dipegang oleh ibu. Saya ingin mempelajarinya.” Ketika Calon Arang sedang pergi ke kuburan, pustaka itu diberikan oleh Sang Manggali kepada kakaknya. Lalu dibaca oleh Mpu Bahula, (lalu) hendak dimintakan izin kepada adiknya, untuk dimohonkan nasihat kepada Sang Pendeta. Lalu diizinkannya. Mpu Bahula segera pergi menuju Buh Citra. Tidak diceritakan dalam perjalanan. Ia segera datang di asrama
18b. di kuburan itu. Dia langsung menuju tempat Sang Pendeta. Beliau dijumpai sedang duduk di rumah kecil dihadap oleh muridnya. Beliau terkejut melihat Mpu Bahula datang membawa lipyakara. Menyembahlah Mpu Bahula di kaki Sang Pendeta, lalu menjilati debu yang berada di telapak (kaki) Sang Pendeta ditempatkannya di ubun-ubun. Senanglah hati Sang Pendeta, melihat kedatangan muridnya. Berkatalah beliau, “Om-om anakku Mpu Bahula datang. Kamu membawa pustaka untuk saya. Apakah barang itu milik Calon Arang?” Mpu Bahula memberitahukan kepada Sang Pendeta, memang benar pustaka itu milik Calon Arang. Lalu pustaka itu dipegang oleh Sang Pendeta. Sastra itu berisi hal sangat utama untuk jalan kebaikan, menuju kesempurnaan, puncak rahasia pengetahuan isi pustaka itu. Mengapakah (pustaka) diarahkan menuju jalan yang salah oleh Sang
19a. Calon Arang, menuju ke kiri, yaitu menjalankan ilmu sihir, kesengsaraan dunia dipegang. Sang Pendeta berkata kepada Mpu Bahula, “Kembalilah engkau ke Girah segera, bawa pustaka olehmu, suruh agar disimpan oleh adikmu Manggali. Saya besok pagi akan menceritakan kepadamu. Adapun saya melalui desa tempat yang terkena musibah dan di kuburan batas tegalan. Engkau pergilah mendahului.” Mpu Bahula lalu minta diri mengusap kaki kepada Sang Pendeta. Ia berangkat. Tidak diceritakah mengenai Mpu Bahula dan Ratna Manggali, mereka saling mencitai siang dan malam. Calon Arang sangat bahagia hatinya, sangat sayang kepada anak dan menantu, membawanya sampai besok malam, tidak hilang ditanyakannya. Diceritakan Sang Pendeta di Lemah Tulis.
19b. Pagi-pagi beliau berangkat dari asrama, diikuti oleh tiga orang muridnya. Perjalanan Pendeta Baradah sangat cepat. Tidak diceritakan perjalanannya, beliau segera datang di desa yang menderita wabah penyakit, jalan sepi rumputnya lebat. Akhirnya, beliau bertemu dengan orang yang akan menyalakan api, hendak membakar mayat. Mayat itu didapatkan oleh Sang Pendeta dalam keadaaan dipeluk oleh istrinya yang menangis. Mayat itu ditutupi dengan kain berwarna putih. Sang Pendeta berkata, “Hai saya kasihan melihatmu, menangis memeluk mayat suami. Bukalah olehmu mayat suamimu itu. Saya akan melihat mayatnya itu.” Mayat itu dibuka, berdenyutlah detak jantungnya. Dibuka dua kali, bernafaslah. Kira-kira dua kali waktu orang makan sirih, dapat duduklah orang yang telah mati itu
20a. oleh Sang Pendeta. Lalu berkatalah orang yang telah mati kepada Sang Pendeta, “Tuankau alangkah besar utang saya kepada Sang Pendeta. Saya tidak dapat membayar utangku itu kepada Paduka Tuan Hamba.” Berkatalah Sang Yogiswara Baradah, “Hai, tanpa alasan katamu itu, jangan begitu. Nah tinggallah kau atau kau pulang ke rumahmu. Aku meneruskan perjalanan.” Sang Pendeta pergi, bertemulah beliau dengan mayat tiga orang berjajar. Dua mayat masih utuh satu lagi telah rusak. Mayat itu diperciki air gangga yang suci. Yang masih utuh, berhasil hidup seperti semula. Beliau segera pergi dari tempat itu, (beliau) menuju rumah kosong, halamannya sepi, rumputnya tumbuh subur. Beliau masuk ke dalam rumah, beliau menemukan orang sakit. Dua orang sudah meninggal. Adapun tetangganya yang lain semuanya sakit. Yang seorang lagi
20b. merintih kesakitan. Yan gseorang lagi tinggal denyutnya saja. Semua diperciki air suci oleh Sang Pendeta. Keduanya berhasil hidup kembali, bersama menghormat dan menyembah di kaki Sang Pendeta. Lalu menjilat debu di telapak kaki Sang Pendeta. Sang Pendeta Baradah berkata, menyuruh kedua orang muridnya itu kembali ke pertapaan karena di sana sepi, pertapaannya di Semasana. Pulanglah kedua muridnya itu. Dia minta diri kepada Sang Pendeta menghormat. Telah lepaslah perjalanan murid itu, segera sampai di pertapaan Semasana di Buh Citra. Tidak diceritakan hal itu. Disebutlah Sang Pendeta, beliau pergi dari tempat itu, ke arah barat daya, beliau melewati tepi kuburan perbatasan tegalan, rumputnya rimbun, dan pakis, waduri, dan pepohonan. Serigala meraung memakan bangkai
21a. di antara rerumputan pakis. Burung gagak berbunyi keras berkepanjangan di pohon. Sang Pendeta Baradah datang ke tempat itu. Anjing diam tidak menggonggong lagi, juga bunyi burung gagak berhenti, melihat Sang Pendeta dtang, Segala tempat yang dilewati oleh Sang Jiwatma, yang sedang sakit menjadi segar kembali seperti semula, yang mati kembali hidup, setelah dilihat Sang Pendeta di tengah kuburan. Ada seorang wanita dalam keadaan menangis, berlari ke utara dan ke selatan, tidak tahu akan perbuatannya di jumpai ketika Sang Pendeta datang. (Ia) mendekat menghormat di kaki Sang Pendeta, lalu berkata kepada Sang Pendeta, “Tuanku, mohon belas kasihan hamba, dihadapan Tuan Hamba Sang Pendeta. Hamba ingin mengikuti suami hamba. Sedih juga hati hamba, anugerahilah pertolongan Tuanku, agar bertemu
21b. suami hamba, Tuanku.” Sang Pendeta berkata, “Tidak kuasa jika demikian. Apabila belum rusak mayat suamimu, barangkali engkau bertemu lagi dengannya olehku. Mayat itu telah hancur, engkau tidak bertemu lagi, engkau jumpai bila engkau mati.. Saya akan menunjukkan jalan ke surga bagimu, dan juga surga bagi suamimu. Inilah sarana dari saya, terimalah jangan menolak. Juga ada pesan saya kepadamu, hendaknya kamu ingat, engkau menemukan suamimu.” Wanita itu menangis menyembah menerima ucapan Sang Pendeta. Tidak diceritakan wanita itu, ia telah pergi. Diceritakan Sang Pendeta. Lalu beliau pergi ke tengah kuburan. Dijumpailah si Weksirsa, dan Mahisawadana, murid Calon Arang itu. Ketika terliahat Sang Pendeta datang, keduanya mendekat kepada Sang Pendeta, menghormati di kakinya Si Weksirsa dan Mahisawadana itu. Berkatalah
22a. Sang Sri Yogiswara Baradah, “Hai, siapakah engkau, datang menyembah saya di tengah kuburan ini, serta dari mana asalmu dan siapakah namamu? Saya tidak mengetahui engkau, beritahukanlah saya!” Si Weksirsa dan Mahisawadana, memberitahukan. Ucapnya, “Tuanku, sebenarnya Si Weksirsa dan Si Mahisawadana menyembah Tuan Hamba Sang Pendeta. Hamba murid beliau Sang Randeng Girah. Hamba menghormat ke hadapan Pendeta mohon belas kasihan paduka, mohon agar dibebaskan dari perbuatan yang tidak baik.” Lalu Sang Yogiswara berkata, “Tidak dapat engkau kuruwat, jika tidak diruwat Calon Arang lebih dahulu. Berangkatlah engaku menghadap Calon Arang, beritahukan bahwa saya ada di sini. Saya ingin berbicara dengan besan.” Si Weksirsa dan Mahisawadana mohon diri dan menghormat, berlutut lalu pergi
22b. keduanya. Diceritakah Sang Calon Arang, ia sedang memuja di kahyangan kuburan di sana. Baru saja Paduka Batari Bagawati kembali dihadap, dalam percakapan (rahasia) dengan janda dari Girah. Batari memberikan petunjuk kepada Calon Arang, “Hai, janganlah engkau tidak waspada, mau dekat dengan dirimu.” Begitulah pesan Batari. Itulah yang membuat rasa khawatir hati Calon Arang, diam tertegun tidak berkata, karena memikirkan pesan beliau Sang Batari. Si Weksirsa dan Mahisawadana segera datang bersama. Ia berkata terlebih dahulu kepada Calon Arang, memberitahukan kedatangan Sang Yogiswara Baradah. Sang Calon Arang berkata, “Hai, jadi besan Baradah datang kemari. Itulah sebabnya saya sekarang menghentikan kepadanya.” Calon Arang segera pergi. Beliau sampai di hadapan Sang Mpu Baradah. Sang Randa di Girah menyapa Sang Pendeta. Ucapnya,

23a. “Hamba bahagia Tuanku Sang Pendeta, besan saya Sang Yogiswara Baradah, saya gembira Sang Pendeta datang. Saya ingin agar diberikan nasihat utama.” Sang Pendeta berkata, “Hai, Besan sangat baik ucapan dan pikiranmu, kalau demikian, baiklah saya memberitahukan tuntunan kemuliaan, tetapi janganlah engkau sangat marah Besanku. Saya beritahukan sebelumnya, Engkau membunuh orang melaksanakan perbuatan jahat, menyebabkan kekotoran dunia, membuat penderitaan di dunia, dan membunuh seluruh dunia. Betapa besar malapetaka di dunia, begitu kotor menyebabkan orang sakit, terlalu besar malapetaka yang engkau perbuat, membunuh orang di seluruh kerajaan. Engkau tidak dapat dibebaskan dari dosa, apabila tidak melalui jalan mati seperti keinginan itu. Kendatipun demikian jika engkau belum mengetahui seluk beluk pembebasan, masa engkau akan bebas dari dosa.” Sang Calon Arang berkata, “Demikian sangat besar dosa saya di dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar