Minggu, 01 Mei 2016

SERAT WEDHATAMA-BIAR TUA HARUS TETAP BELAJAR






SERAT WEDHATAMA: BIAR TUA HARUS TETAP BELAJAR

Anak muda kadang-kadang merasa sebal dengan orang “tua” yang banyak memberi nasihat. Sementara orang “tua” sering merasa lebih pengalaman sehingga sering mencela sekaligus menasihati orang yang lebih muda. Kemudian orang muda merasa nasihat yang disampaikan sudah ketinggalan jaman. Memang benar bahwa apa yang diceriterakan adalah pengalaman masa lalu di tempat yang berbeda, pada waktu yang berbeda pula terhadap orang yang juga berbeda.

Menjadi orang “tua” apalagi jaman sekarang memang harus lebih hati-hati. Anak muda sekarang lebih kritis, pengetahuan bisa jadi memang lebih luas. Satu-satunya yang kalah adalah “pengalaman”. Bila pada jaman dulu “Kebo Nusu Gudel” (baca posting tentang ini) seolah-olah “aib” bagi orang tua, pada jaman sekarang harus dipertimbangkan lagi tingkat keaibannya.

Sri Mangkunagara IV, dalam Serat Wedhatama, Pupuh Pangkur, bait ke dua disebutkan:

Jinejer neng Wedatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun
Yen tan mikani rasa,
yekti sepi asepa lir sepah, samun,
Samangsane pasamuan
Gonyak-ganyuk nglilingsemi.
Terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:

(Tan: tidak; Kemba: tidak mantap, tidak rajin; Tan kemba: berarti “rajin”; Kembeng: genangan; Budi: Nalar, pikir, watak; Wikan: tahu; Rasa: bisa diartikan “ilmu”; Sepa: hambar; Samun: sepi, kosong, kabur; Gonyak-ganyuk: tindak-tanduk yang tidak pas). Terjemahan bebas saya sebagai berikut:

Disajikan dalam Wedhatama,
Agar tidak kendor dalam muatan nalar kita
walaupun sudah tua dan pikun
jika tidak memahami ilmu
Pasti sepi, hambar seperti ampas kosong
Bila menghadiri pertemuan
Perilakunya memalukan.


Perilaku “gonyak-ganyuk” karena “serat” ini menyebutkan dalam “pasamuan” (pertemuan tentunya dikaitkan dengan “bicara”. Kemudian dalam baris ke tiga disebutkan “nadyan tuwa pikun” maka “serat” ini mengingatkan khususnya pada yang sudah tua supaya “mawas diri” dalam berbicara. Nalar harus tetap dipakai. “Budi” (ilmu) harus tetap “ngembeng” (menggenang).



Saya sendiri sudah cukup tua, “Serat” ini juga mengingatkan pada diri saya. Jangan sampai saya “gonyak-ganyuk nglilingsemi samangsa pasamuan”. Ngomong banyak kelihatannya didengarkan tetapi di belakang jadi bahan tertawaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar