Sabtu, 07 Mei 2016

LONTAR CALONARANG TERJEMAHAN BAGIAN I






Calon Arang (terjemahan Indonesia)
= Semoga tidak ada halangan
Ada perkataan orang-orang tua yang mengisahkan hakikat Sri Mpu Baradah ketika beliau tinggal di pertapaannya di Lemah Tulis. Tidak ada tandingan mengenai kesaktiannya, terutama dalam menghayati Dharma. Beliau sempurna dalam hal penghayatan, mengetahui ilmu kesempurnaan dunia. Demikianlah pelaksanaan kesempurnaan tapanya. Beliau mempunyai seorang putrid, bernama Sang Wedawati, gadis belum bersanggul, sangat cantik(nya), bagaikan bidadari turun ke bumi. Setelah itu sakitlah istri Sri Mpu Baradah, ibu Sang Wedawati itu. Akhirnya beliau meninggal. Wedawati sedih dan menangis. Dia memeluk mayat ibunya, keluh kesahnya mengharukan, “Aduhai, ibuku, siapakah yang akan mengasihi hamba lagi?”
=Maka disuruhlah membawa mayat itu ke kuburan, agar dibakar di kuburan. Setelah sempurna, beliau pun mencapai kelepasan. Tidak diceritakan beliau itu. Lalu Mpu Baradah mencari istri lagi. Kemudian, beliau berputra seorang laki-laki. Semakin dewasa umur(nya) anak itu, sudah cukup usia untuk berlari-larian, sampai sudah dapat memakai kain. Mpu Baradah pergi ke pertapaannya, di tempat tinggal beliau, tempat dia melakukan yoga, bernama Wisyamuka. Di sanalah beliau melakukan korban, dihadap oleh para muridnya. Di tempat itulah beliau mengajarkan ajaran kebenaran dan kebaikan. Hentikanlah sejenak, diceritakanlah Sang Wedawati. Gadis ditu dicaci maki oleh ibu tirinya, maka Sang Wedawati sangat sedih. Menangislah dia, tidak sempat memakai perhiasan dan makan. Kemudian, dia pergi ke tempat pembakaran ibunya, di kuburan itu.
=Lepaslah perjalanannya, telah datang di bawah lindungan pohon beringin besar. Ia bertemu dengan mayat, mayat orang yang mati yang diduga karena tÄ›luh. Empat mayat banyaknya. Adapun anaknya hendak menyusu pada mayat ibunya, (yang) dikerumuni oleh semut gatal. Sang Wedawati sangat terharu melihatnya. Dia berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, lalu menuju ke tempat pembakaran ibunya. Duduklah dia di bawah naungan pohon kepuh. Dia menangis berlindung di akar pohon kepuh itu, mengelukan kepada ibunya, “Ibu, jemput aku segera.” Begitulah seruan Sang Wedawati memilukan hati. Tidak akan disebutkan Dyah Wedawati. Diceritakan Sri Mpu Baradah pulang dari bersembahyang di Wisyamuka. Beliau duduk di tempat pertemuan. Datanglah istrinya, memberitahukan ucapan penolakan Wedawati memetik bunga dengan adiknya.
=Bunga itu direbutnya, keduanya pun menangis, lalu dia pergi. Dicari oleh sanak keluarga tidak dijumpai. Sang Pendeta berkata, “Sayalah yang akan mencarinya sekarang.” Sang Pendeta segera lenyap, ikut akan mencari anaknya, sampailah beliau di ladang-ladang. Ada anak gembala ditemuinya. Sang pendeta bertanya dengan ucapnya halus, “Hai Anak Gembala, tahukan kau wanita bernama Wedawati. Adakah dia engkau temui di sana dan bagaimanakah?” Anak gembala menjawab, memberitahukan kepada Sang Pendeta, “Ada putri sangat cantik rupanya. Dia menangis, mengeluhkan ibunya. Dia berkerudung pergi ke selatan ke barat”. Sang Pendeta mempercepat jalannya, menanti putrinya. Beliau segera datang ke tampat pembakaran istrinya ditemui jeajaknya. Dia bersedih sambil menangis, memandang kea rah utara, selatan, barat dan timur. Kelihatan Sang Putri menangis duduk di atas batu, berlindung di akar pohon kepuh. Berkatalah Sang Pendeta, “Aduhai Anakku, engkau sangat berani datang ke kuburan ini, ke pembakaran mayat ibumu. Sudahlah Anakku, janganlah begitu, sebab perilaku dalam kehidupan, kematianlah akhirnya. Marilah Anakku pulang, jangan keras (hati) sayangku.” Sang putri menjawab, “Saya akan turut mati saja bersama ibu. Hati saya sangat sedih dan pasti akan mengikuti kepergian ibu.” Sang Pendeta berkata, “Anakku tersayang ikuti saya sekarang.” Kemudian, beliau minta Sang Putri agar pulang. Terbenamlah matahari, tiba di Lemah Tulis. Dinasihatilah semalam Sang Wedawati oleh Sang Pendeta, (mengenai) jalan menuju kebaikan. Sang Wedawati mengikuti nasihat Sang Pendeta. Setelah demikian
=Sang Pendeta pergi melakukan persembahan rutin bersama di Wisyamuka. Di sana Sang Pendeta dihadap oleh muridnya semua, diberi persembahanlah beliau di sana. Sang Pendeta mengajarkan ajaran kebaikan kepada muridnya semua diberitahukanlah mereka di sana. Sang Pendeta menyampaikan (mengajarkan) tentang tuntunan kebenaran, kepada semua muridnya mengenai dharma dan kesempurnaan menuntut ilmu. Tidak diceritakan Sang Pendeta. Diceritakanlah Sang Wedawati dimarahi oleh ibu tirinya lagi. Sang Putri menangis, bingung dalam bertingkah laku. Dia sangat sedih. Dia pergi lagi ke tempat pembakaran mayat ibunya. Tidak diceritakan perjalanannya di jalan. Ia segera tiba di tempat pembakaran. (Ia) bersedih dan menangis, keluh kesahnya, “Ibuku, lihatlah olehmu kesengsaraanku, (tetapi) permintaanku kepadamu, renggutlah aku cepat-cepat. Aku akan selalu bersamamu ibu.” Demikian(lah) keluh kesahnya, keluar air mata. Sang Wedawati sedih. Jangan bersamanya. DIceritakanlah Sang Pendeta. Beliau dating dari melakukan persembahan utama.
=Beliau duduk di balai penghadapan. Dipanggillah anaknya, “Omputri engkau Anakku, datanglah kemari (kau) Wedawati sayangku, berdua bersama adikmu di penghadapan? (Mengapa) tidak ada yang menjawab?” Kemudian, ibu tirinya mendekat (lalu) berkata. Ucapnya, “Tuanku Sang Pendeta, anak Sang Pendeta menolak lagi, datang berebutan dengan adiknya itu.Hamba tidak dapat menahan, cepat-cepat pergi, dicari keluarganya, tidak ditemuinya.” Sang Maharsi berkata, “Aduh, dia datang lagi ke pembakaran ibunya di sana.” Sang Pendeta (lalu) turun dari tempat duduk hendak mencari anaknya. Dia akan datang ke tempat yang kotor. Sang Pendeta berjalan cepat, setibanya Sang Pendeta di kuburan it, dijumpai putrinya. Sang Pendeta berkata, “Aduhai Anakku, Wedawati sayangku, pulanglah anakku ke asrama. Saya akan mengiringkanmu. (Kamu) tidak lain menjadi
=jiwa pikiran dalam lubuk hati. Engkau bunga jangga. “Sang Wedawati tidak menjawab. Ucapan Sang Pendeta minta belas kasih. Bingunglah hati Sang Pendeta, melihat perilaku anaknya itu. Sang Pendeta duduk di bawah naungan pohon kepuh. Beliau kemudian mengajarkan tuntunan kebaikan kepada putrinya. Lama (beliau) Sang Pendeta memberi ajaran kepada anaknya. Akhirnya Sang Wedawati berkata, “Sembah sujud di telapak kaki Paduka. Anak Sang Pendeta enggan pulang ke Lemah Tulis, ingin mati saja di sini, mengikuti pesan ibu hamba. Saya ingin berlindung di bawah naungan pohon kepuh, hingga pada saatnya menemui ajal. Hamba mati saja di sini. “Mpu Baradah memerintahkan kepada murid-muridnya. Segera menyuruh mengusung balai dan rumah untuk tempat peristirahatannya di kuburan itu. Demikianlah keinginan Sang Pendeta.
=Di kuburan tempat pembakaran itu akan dibuat asrama. Mereka meratakan dan menyucikan tanah kuburan, mendirikan balai, ruang tamu, ruang tidur, utamanya rumah kecil, pintu bertingkat di pinggir. Pagar tanaman suru-suru dijajar padma, dan pete-petean. Ada angsoka (Tonesia asoka Roxb), andul (Eleo carpus specious), surabi (Michelia campaka), tanjung, kamuning (Murrava), campaka gondok, warsiki, angsana (Terminalia tomentosa), jering (Pithecolibium). Ada lagi nagasari berdaun muda. Tidak akan disebutkan segala jenis bunga, cabol atuwa, gambir, bunga melati (Jasminum grandiflorum), caparnuja, kuranta (Barbaria), pohon teri naka (Bauhinia tumentosa), cina (Artocarpus integrifolia), teleng (Clitorea ternatea), bunga wari dadu (Pink), putih, jingga, merah, bunga tali, teratai merah, dan lungid sabrang. Termasuk bayem raja (Amarantus oleraccus), bayem suluh, tumbuhan berakar (Ikut Lutung) (Acalupha deusiflora), tumbuhan berserabut, disertai bunga rara emas (Rara Melayu). Bunga seruni putih, seruni kuning, mayana loreng, mayana nila (Coleus cutellanoides). Ada yang kuning, lungid sabrang, andong (Calodracon jaquinia) ditata, juga pohon kancana (kayu mas), puring, tunjung, pohon ara di pojok. Lengkap segala macam bunga dan berjenis-jenis kembang. Pandan janma telah berdiri kokoh, menuruti cara kehidupan di asrama,
=sangat indahnya, mengesankan bagaikan alam Dewa Wisnu turun ke dunia. Senang hati Sang Wedawati, setelah asrama itu selasai dibuat, kuburan tempat ibunya dibakar. Kokoh tempat tinggal Sang Pendeta, ada di pertapaannya dihadap oleh murid tua dan muda pada waktu siang dan malam. Tidak dikatakan Sang Pendeta. Diceritakanlah Sang Raja di Daha. Beliau memerintah dengan damainya, menguasai dunia, aman dan sejahtera kerajaan dalam kekuasaannya. Maharaja Erlangga gelar beliau, berbudi sangat mulia, cenderung meniru Pendeta. Berbagai pulau di Nusantara tunduk kepada beliau. Disebutkan ada seorang janda, tinggal di Girah, Calon Arang namanya. Dia berputra seorang wanita, bernama Ratna Manggali, parasnya sangat cantik, bagaikan permata istana. Lama tidak ada orang yang hendak melamarnya, baik orang dari Girah maupun orang dari Kerajaan Daha,
=atau pun daerah pinggiran, sama tidak ada yang hendak melamarnya, berani datang ke tampat anak janda itu, yang bernama Manggali di Girah, karena terdengar oleh dunia bahwa beliau (Randa) di Girah berbuat jahat. Menjauhlan orang yang ingin melamar Sang Manggali.. Sang Randa pun berkata, “Aduh apakah ini yang membuat anakku tidak ada yang melamarnya, (padahal) cantiklah rupanya, kendatipun demikian tidak ada yang menanyakannya. Sakit juga hatiku oleh keadaan itu. Berdasarkan hal itulah aku akan mengambil pustakaku. Apabila aku telah memegang pustaka itu, aku akan datang menghadap Paduka Sri Bagawati. Aku akan minta anugerah, semoga binasalah orang-orang di seluruh kerajaan. “Setelah beliau mengambil pustaka, pergilah ia ke kuburan. Ia mohon anugerah Tuhan ke hadapan Paduka Batari Bagawati, diikuti oleh muridnya semua. Adapun nama masing-masing

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar