Sabtu, 07 Mei 2016

LONTAR CALONARANG BAGIAN II






7a. muridnya itu : Si Weksirsa, Mahisawadana, Si Lendya, Si Lende, Si Lendi, Si Guyang, Si Larung, dan Si Gandi. Itulah yang mengiringkan Sang Randa di Girah. Mereka (bersama) menari di kuburan itu. Segera muncul beliau Paduka Batari Durga bersama pengikutnya banyak, semua turut menari (bersama). Calon Arang memuja kepada beliau Paduka Batari Bagawati. Batari berkata, “Aduhai engkau anakku, Calon Arang. Apa maksudmu datang menghadap kepadaku, (maka) engkau diikuti oleh para muridmu semua, datang memujaku bersama-sama?” Sang Randa berkata menyembah, “Tuanku, putra Tuankan hendak mohon, mudah-mudahan binasalah orang-orang di seluruh kerajaan. Begitulah tujuan utama putra Tuanku.” Batari berkata, “Aduh putraku. Ya, aku bolehkan, tetapi janganlah membunuh sampai di tengah. Jangan membunuh sangat dendam anakku.” Sang Randa menyetujui, mohon dirilah ia kepada Batari Bagawati. Sang Calon Arang
7b. segera pergi, lepas jalannya, diiringi oleh muridnya semua. Mereka menari di pekuburan di tengah malam, membunyikankamanak, kangsi bersama-sama menari. Setelah selesai menari, kembalilah mereka ke Girah. Mereka bersenang hati pulang ke rumahnya. Tidak lama sakitlah orang-orang di desa-desa. Banyak yang mati bertumpuk-tumpuk. Tidak diceritakan Calon Arang itu. Diceritakanlah Sang Raja di kerajaan. Sri Maharaja Erlanggya duduk dihadap di balai penghadapan. Lalu berkatalah Rakryan Apatih. Ucapnya, “Patik hamba Batara memberitahukan di hadapan Tuan Hamba, karena rakyat Tuan Hamba banyak mati, sakit panas dingin sehari dua hari lalu meninggal. Adapun yang kelihatan menjalankan (těluh) janda Girah, bernama Calon Arang. Dia menari di sana di pekuburan, datang bersama muridnya. Banyak yang melihat mereka itu bersama-sama di sana.” Begitulah laporan Ken Apatih.
8a. Semua orang di tempat persidangan sama-sama membenarkannya, memang benar demikian, seperti laporan Ken Apatih. Sang Raja berkata dengan sedih, kemudian beliau marah, “Manakah rakyat dan prajuritku.” Tidak lama bersamaan datang prajurit “tentara rahasia”. Pergilah kamu, serbu dan bunuh Calon Arang. Jangan engkau seorang diri, hendaklah engkau membawa prajurit banyak, jangan lengah.” Semua prajurit minta diri menghormat di hadapan Sang Raja, “Hamba Raja mohon pamit serta mohon perlindungan Dewa. (Hamba) akan membunuh janda di Girah.” Prajurit itu berangkat. Tidak diceritakan perjalanan di jalan, segera sampai di Girah. Tibalah para prajurit di tempat tinggal Calon Arang. Mereka hendak membunuh selagi waktu orang-orang sudah tidur, pada waktu tidak ada tanda-tanda orang bangun. Para prajurit segera mengikat erat-erat rambut Sang Randa, menghunus kerisnya. Ketika mereka hendak menusuk Randa, tangan prajurit itu terasa berat dan gemetar. Tiba-tiba Calon Arang terkejut bangun. Keluarlah
8b. api dari mata, hidung, mulut dan telinga. (Api) menyala berkobar-kobar membakar prajurit itu. Matilah dua orang prajurit itu. Yang lain menjauh, cepat-cepat lari. Tidak diceritakan perjalanan di jalan. Mereka segera sampai di istana. Sisa prajurit yang mati itu berkata, “Tuanku yang mulia, tidak berhasil prajurit Paduka Tuanku. Dua orang meninggal akibat sihir janda di Girah. Memancarlah api dari badan berkobar-kobar, membakar prajurit Paduka Tuanku.” Sang Raja berdiam tertegun mendengar laporan prajuritnya. Lalu Sang Raja berkata, “Hai, Mahapatih, bingunglah hatiku mendengar laporan “tentara rahasia” itu. Bagaimanakah engkau menjaga mantriku semua?” Tiba-tiba Sang Raja segera pergi dari tempat pertemuan, bertambah sedihlah Raja karena “tentara rahasia” mati dua orang. Tidak diceritakan Sang Raja, akan diceritakanlah jandi di Girah. Makin bertambahlah
9a. marahnya karena kedatangan para prajurit, apalagi tentara Sang Raja. Calon Arang berkata memberitahukan kepada muridnya, mengajak pergi ke kuburan. Dia mengambil lagi buku suci itu. Setelah mengambil buku suci itu, dia segera pergi diikuti oleh muridnya semua. Dia datang di pinggiran kuburan, tempat di bawah naungan pohon kepuh, dikelilingi keindahan. Daunnya lebat menjulur menutup sampai ke bumi. Di bawahnya jalan yang datar (bersih), seperti disapu pada siang dan malam. Di sanalah janda Girah duduk, dikerumuni oleh semua muridnya. Si Lendya bertanya kepada Sang Randa, “Mengapa Tuanku berbuat seperti sekarang, terhadap kemarahan Sang Raja? Lebih baik mencari keselamatan, menyembah di hadapan Sang Pendeta yang hendak menunjukkan surga kematian.” Lalu Si Larung berkata, “Apakah yang dikhawatirkan terhadap kemarahan Sang Raja? Sebaliknya, diperkuatlah
9b. penyerangan sampai ke wilayah tengah.” Mereka (semua) mendukung ucapan Si Larung (mengikuti) Ni Calon Arang menurut. Kemudian dia berkata, “Ya, diperkuatlah tujuanku Larung. Bunyikanlah kamanak kangsimu itu. Marilah kita menari, satu per satu, akan kulihat gerakanmu masing-masing. Nanti jika tiba saatnya, kau bersama menari.’ Si Guyang segera menari, gerak tarinya merentang-rentangkan tangan menepuk-nepuk. Dia bergerak terengah-engah sukar terbalik bersama kainnya. Matanya melirik-lirik, menoleh ke kanan dan kiri. Si Larung pun menari, geraknya bagaikan harimau hendak menerkam mangsa, matanya berwarna merah. Ia telanjang. Rambutnya terurai ke depan. Si Gandi menari. Dia menari melompat-lompat, rambutnya terurai di samping. Matanya kelihatan mirip ganitri. Si Lendi menari, tariannya dengan melangkah cepat (berhenti sejenak lari lagi) dengan kainnya. Matanya
10a. menyala, bagaikan api hampir membakar, mendekat ke rambutnya yang terurai. Si Weksirsa menari, gerak tarinya membungkuk-bungkuk, lirikan matanya memandang tanpa berkedip, rambutnya terurai ke samping. Ia telanjang. Si Mahisawadana menari dengan satu kaki. Setelah (menari) dengan satu kaki, dia berjungkir balik dengan lidahnya menjulur ke luar, tangannya bagaikan hendak menerkam. Senanglah hati Calon Arang. Setelah mereka menari bersama, dia membagi tugas masing-masing, menjadi lima arah. Si Lendi di Selatan, Si Larung di Utara, Si Guyang di Timur, Si Gandi di Barat, Calon Arang, Si Weksirsa, dan Mahisawadana di tengah. Setelah mereka membagi menjadi lima penjuru itu, pergilah Sang Calon Arang ke tengah kuburan. Ia menemukan mayat orang mati mendadak, pada hari Sabtu Kaliwon. Mayat itu didirikan,
10b. diikatkan pada pohon kepuh. Mayat itu dihidupkan, diberi nafas. Si Weksirsa dan Mahisawadana membukakan matanya. Hidup kembalilah mayat itu. Mayat itu dapat berbicara. Ucapnya, “Siapakah Tuan yang menghidupkan hamba, sangat besar hutang hamba. Hamba tidak tahu membalasnya itu. Hamba hendak mengabdi kepadanya. Lepaskanlah ikatan hamba dari pohon kepuh. Hamba hendak berbakti dan bersujud, hendak menjilat debu pada kaki Tuan Hamba.” Lalu Si Weksirsa berkata, “Engkau kira engkau akan hidup lama? Sekarang engkau akan kupenggal lehermu dengan golok.” Segera lehernya dipenggal dengan golok. Melesatlah kepala mayat yang dihidupkan itu, darahnya menyembur menggenang. Darah itu dipakai mencuci rambut oleh Sang Calon Arang. Kusutlah rambutnya oleh darah, ususnya menjadi kalung dan
11a. dikalungkannya, dengan secepatnya diolah dipanggang semua, digunakan untuk korban para “makhluk buta”, (dan) segala yang tinggal di kuburan itu, terutama Paduka Batari Bagawati. Korban utama itu dihaturkan. Segera muncullah Paduka Batari dari kahyangannya. Lalu berkatalah ia kepada Calon Arang, “Aduh, Anakku Calon Arang, apakah maksudmu mempersembahkan makanan kepadaku, bakti menyembah? Saya terima persembahanmu itu.” Janda Girah menjawab, “Tuanku, penguasa dunia (raja) marah kepada putra paduka Tuanku Batari. Maksud Patik Batari, mohon perkenan Batari, untuk membinasakan orang di seluruh kerajaan sampai di tengah sekali.” Batari berkata, “Ya, aku senang Calon Arang, tetapi engkau jangan tidak waspada dalam bertindak, jangan lengah.”Lalu janda di Girah minta pamit, menghormat
11b. kepada Batari. Segera lepaslah perjalanannya. Mereka bersama-sama menari di perempatan jalan. Seluruh kerajaan terserang penyakit, sakit semalam dua malam, tidak lain panas dingin sakitnya. Orang-orang itu meninggal, bergantian menguburkan (orang mati). Esok pagi menguburkan temannya, sore hari ia dikuburkan. Mayat bertumpuk-tumpuk tindih-menindih di kuburan. Tidak ada selanya di kuburan dengan batas lubang pembuangan air, karena banyaknya mayat itu. Yang lain di ladang atau pun di jalan, ada pula membusuk di rumahnya. Anjing melolong makan mayat. Burung gagak terbang berkeliaran, ikut bersama-sama mematuk-matuk bangkai. Lalat berdengung bergemuruh di dalam rumah. Banyak rumah dan tempat tinggal yang kosong. Ada juga orangnya yang pergi jauh, mencari tempat tinggal yang bebas penyakit. Tujuannya mengungsi agar tetap hidup. Yang sedang sakit dipikulnya. Adayang mengemban anak dan yang dituntunnya, (ada) yang dibawa seseorang. Buta itu menyaksikan berteriak, teriaknya keras. Katanya,
12a. “Janganlah engkau pergi, desamu telah aman, penyakit telah hilang, kembalilah engkau ke sana, engkau pasti hidup.” Setelah Buta berkata begitu, banyak orang mati di jalan. Orang-orang itu pergi cepat membawa yang lain. Buta yang ada di rumah kosong, (mereka) bersenang-senang, ada yang berjungkir balik, riang gembira. Yang lain di lebuh dan di jalan besar. Si Mahisawadana masuk ke dalam rumah. Dia berjalan di antara batas. Sakitlah orang-orang serumah. Si Weksirsa masuk di tempat tidur orang, berjalan di samping tembok, membuka-buka potongan (leher), minta korban darah mentah dan daging mentah. “Itulah yang saya inginkan, janganlah lama-lama,” ucapnya. Tidak diceritakan orang-orang yang mati dan sakit dan tingkah laku Buta membunuh. Diceritakan Sang Raja di kerajaan. Beliau dihadap di balai penghadapan, kelihatannya kurang bahagia di balai penghadapan itu, akibat kesedihan Sang Raja, tingkahnya membingungkan.
12b. karena orang-orang di kerajaan banyak yang mati. Selain itu banyak orang yang sakit. Bagaikan tanpa cahaya kerajaan itu. Sang Raja segera bersabda kepada Apatih dan para Mentri Utama, mengutus agar mengundang Sang Pendeta, Sang Resi, Sang Bujangga, dan para Guru. Diperintahkan mencari upaya masing-masing, serta memuja Dewa, karena orang-orang di seluruh kerajaan merana. Para Guru mengadakan pemujaan dan Sang Pendeta memohon kepada Sang Hyang Agni. Kira-kira tengah malam muncullah Sang Hyang Caturbuja dari Sang Hyang Agni. Kemudian beliau berkata, “Om-om, adalah beliau bernama Sri Munindra Baradah, tinggal di pertapaan (berada) di Semasana di Lemah Tulis. Pendeta yang sempurna. Dialah yang dapat meruwat kerajaanmu, yang akan menghilangkan noda di dunia, membuat sejahtera dunia.” Setelah beliau bersabda demikian, moksa lenyap terbang (di angkasa). Para Maharsi yang mengadakan pemujaan itu senang mendengarkan semua
13a. sabda Sang Caturbuja. Kemudian pada esok hari, mereka bersama-sama melaporkan hal itu kepada Sang Raja, tentang semua ucapan Sang Caturbuja, ketika Sang Raja sedang dihadap di luar balai penghadapan. Sang Pendeta berkata, “Tuanku Sang Raja, adalah Sang Caturbuja, muncul dari Sang Hyang Agni (Api Pemujaan), lalu bersabda, bahwa Sang Sri Munindra Baradahlah yang akan meruwat kerajaan Tuanku. Beliau yang pertapaannya di Semasana Lemah Tulis yang akan menghilangkan noda di dunia. Begitulah sabda Sang Caturbuja.” Yakinlah Sang Raja, terhadap ucapan Sri Guruloka. Sang Raja memerintahkan supaya mengirimkan utusan menghadap Sang Muniswara, yang ada di Semasana, “Hai, Kanuruhan! Pergilah engkau ke pertapaan, di Semasana Wihcitra. Undanglah Sang Pendeta Sri Yogiswara Mpu Baradah. Kumohon agar meruwat kerajaan kami yang terserang wabah penyakit.
13b. Janganlah engkau tidak cepat.” Sang Kanuruhan segera minta pamit, menghormat di hadapan Sri Raja. Berangkatlah ia naik kereta ditarik kuda. Cepatlah perjalanan Kanuruhan itu. Ia kemalaman di jalan, tetapi berjalan juga diterangi sinar bulan, berkabut emas terhalang di jalan. Keesokan harinya Sang Kanuruhan berjalan. (Ia) segera datang di asrama. Ken Kanuruhan turun dari kereta. Ia masuk pintu asrama bertemu Sang Pendeta di pertapaannya. (Sang Pendeta) menyapa kepada tamu, beliau sungguh budiman, “He, bahagialah engkau laki-laki, saya tidak mengetahui engkau datang. Tentang tujuanmu ke asrama. Mengapa engkau langsung mencari saya pada pagi hari? Namun saya telah tahu tentang keinginanmu itu.” Berkatalah Kanuruhan memberitahukan kepada Sang Pendeta, “Hamba
14a. berasal dari Kerajaan Kadiri. Hamba Kanuruhan, diperintahkan untuk mendatangi Tuanku Yang Mulia, Sang Pendeta, untuk mengundang Sang Pendeta. (Hamba) diutus oleh Sang Penguasa dunia. Adapun maksud raja agar Sang Pendeta datang ke kerajaan. Sang Penguasa dunia meminta belas kasihan Sang Pendeta, mohon agar orang-orang di seluruh kerajaan dihidupkan oleh Sang Pendeta. Sang Pendetalah yang hendak menyucikan kerajaan dari malapetaka, karena wabah penyakit, banyak (orang) yang mati. Adapun kerajaan dilanda wabah penyakit. Ada janda dari Girah, bernama Calon Arang. Dialah penyebab sakit itu. (Ia) mempunyai seorang anak putri bernama Manggali. Adapun penyebab sedih orang yang bernama Calon Arang, karena tidak ada orang yang mau melamar anaknya bernama Manggali. Sang Calon Arang sangat sedih.” Lalu Sang Jatiwara berkata, “Benar seperti yang dikatakan itu. Saya tidak menolak datang bersama ke sana. Ada murid saya seorang. Dia akan mengikutimu Kanuruhan
14b. ke kerajaan. Namanya Mpu Kebo Bahula. Dia akan kusuruh melamar Sang Manggali. Engkau Kanuruhan memberitahukanlah kepada Sang Penguasa dunia, apabila Mpu Bahula akan melamar Manggali. Berapa saja mahar yang diminta hendaklah dipenuhi oleh raja. Demikian pesan saya kepadamu. Saya juga nanti menasihati Mpu Bahula, apabila dia telah sehati dan kawin memadu kasih dengan Ratna Manggali.” Sang Kanuruhan mengiyakan. Sang Pendeta berkata lagi kepada pembantunya, menyuruh memasakkan makanan dan buah-buahan, karena di tempat(nya) Sang Kanuruhan tidak ada. Tidak lama datanglah jamuan dengan segala perlengkapan upacara sangat indah kelihatannya, tuak, nasi, ikan, tampo, berem , kilang juga sěrěbad budur. Kanuruhan segera makan bersama-sama. Mereka (bersama) minum cakilang, pikirannya sama-sama senang. Ada yang bernyanyi, bercerita,

15a. sambil menari. Apakah yang menyebabkan demikian? Karena sedang diperintah oleh raja, lalu mendapatkan makanan dan buah-buahan. Tidak semata-mata sejahtera seluruh kerajaan itu, pikirnya. Mereka bermalam di pertapaan semalam. Esok pagi Sang Kanuruhan minta pamit kepada Sang Pendeta. Mereka pun menghormat dan Mpu Bahula diserahkan. Tidak diceritakan dalam perjalanan Ken Kanuruhan, demikian pula Mpu Bahula, mereka segera sampai di istana. Dijumpailah Sang Raja yang sedang dihadap di Manguntur, dihadap para Adipati dan patih. Ken Kanuruhan dan Mpu Bahula kemudian datang ke tempat pertemuan. Ken Kanuruhan menghormat di depan Sang Raja, lalu ia berkata kepada Sang Raja, “Tuanku, tidak dapat didatangkan Sri Munindra oleh hamba. Itu siswanya saja bernama Mpu Bahula datang menghadap Paduka Sang Raja. Dia diperintahkan untuk melamar Ratna Manggali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar