Minggu, 01 Mei 2016

SERAT WEDHATAMA-BERILMU TIDAK HARUS TUA






SERAT WEDHATAMA: BERILMU TIDAK HARUS “TUA”

Jaman dulu gambaran seorang profesor adalah laki-laki tua, botak, berkacamata plus pelupa saking tuanya. Sekarang ini sudah banyak profesor muda. Usianya belum mencapai limapuluh tahun, dan tidak botak. Saat itu berbahagialah orang botak, Sepanjang dia tutup mulut, bisa dianggap bicara.


Demikian pula gambaran orang berilmu harus kelas atas dan kaya sebenarnya dari dulu mestinya sudah dihilangkan. Memang untuk bisa sekolah tinggi harus punya biaya. “Jer basuki” memang “mawa beya”. Tetapi saya banyak melihat orang tua yang ingin anaknya “jadi orang” akan mengorbankan segala-galanya supaya anak bisa sekolah. Demikian pula anak yang ulet dan punya kemauan akan membantu semampunya untuk meringankan beban orang tua.


Sri Mangkunegara IV, dalam Serat wedhatama, Pupuh Pangkur, bait ke 11, disebutkan:

Iku kaki takok-eno,
marang para sarjana kang martapi
Mring tapaking tepa tulus,
Kawawa nahen hawa,
Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu
Tan mesthi neng janma wredha
Tuwin mudha sudra kaki.

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Coba nak, tanyakan
Kepada para sarjana yang menguasai ilmu
Kepada jejak hidup yang menjadi suri tauladan
Mampu menahan hawa napsu
Ketahuilah bahwa senyatanya ilmu
Tidak harus dikuasai orang tua
Bisa juga dikuasai orang muda atau orang miskin, nak.

Kawawa nahen hawa (mampu menahan hawa napsu) merupakan kata kunci penguasaan ilmu. Anak muda yang “taberi”, mengorbankan kesenangan hidup usia mudanya dan lebih memprioritaskan belajar sekaligus mencari sendiri biaya untuk belajar, termasuk anak yang “kawawa nahen hawa”. Buahnya dipetik kemudian.

Tigapuluh tahun lalu saya membantu mengajar di Sekolah Perawat Kesehatan, setingkat SMA. Murid-murid yang pandai selalu saya tanya: “kenapa kamu tidak masuk SMA saja, lalu mendaftar di Fakultas Kedokteran?” Pada umumnya semua menjawab: “Supaya bisa langsung kerja” (dalam pengertian orang tuanya tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi).

Tigapuluh tahun kemudian banyak diantara mereka yang sudah meraih gelar S-2 dalam maupun luar negeri. Mereka pandai, berhasil mendapat beasiswa. Mereka semua anak orang kecil yang tidak kaya. Saat ini umur belum mencapai limapuluh tahun.

Intinya, penguasaan ilmu itu “Tan mesthi ing janma wredha” bisa pada kaum “mudha tuwin sudra” sepanjang “kawawa nahan hawa”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar